-
posted by Anindya Nov 5th, 2010
Malam itu, Senin, 25 Oktober 2010, gempa berkekuatan 7,2 Skala Richter mengguncang Pulau Mentawai, Sumatera Barat. Gempa ini mengagetkan sebagian besar penghuni pulau itu yang sedang tidur. Tak lama setelah gempa, gelombang tsunami datang menghempas pulau itu dan menyapu segala isinya.Akibat bencana tsunami yang melanda Mentawai, lebih dari 400 orang meninggal, sekitar 270 korban luka berat, dan 75 orang hilang. Ratusan rumah di pinggir pantai Pulau Pagai dan Sipora Selatan rusak berat. Kejadian tersebut menambah panjang deretan bencana yang menimpa Indonesia.
Saat gempa dan tsunami melanda Mentawai, saya sedang berada di Shanghai, China, mengikuti rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya ikut rombongan presiden untuk bertemu pengusaha China, mengikuti penandatanganan MoU, dan menghadiri acara expo di sana.
Lepas dari Shanghai, rombongan Presiden dijadwalkan bertolak ke Hanoi untuk mengikuti KTT ASEAN dan KTT Asia Timur. Malam itu Presiden langsung menerima laporan adanya gempa berkekuatan 7,2 SR itu. Informasi awal yang masuk ke Presiden, gempa Mentawai tidak terlalu parah dan tidak banyak memakan korban.
Dari kabar yang dilansir media massa, saat itu dilaporkan imbas gempa tidak terlalu besar. Bahkan adanya tsunami belum diketahui. Ini terjadi karena komunikasi tidak terjalin dengan baik antara daerah bencana dengan pusat.Namun setelah diketahui bencana itu ternyata cukup besar, Wakil Presiden Boediono langsung datang ke lokasi.
Presiden SBY yang masih berada di luar negeri dan sedang membahas naskah pidato kenegaraan di KTT ASEAN, memutuskan membatalkan terbang ke Hanoi dan langsung kembali ke Tanah Air. Setelah rapat dengan jajarannya di China, Presiden memutuskan segera menuju Padang, Sumatra Barat.
Sampai di Padang, langsung diadakan briefing. Presiden dan rombongan mendengarkan laporan dari Wakil Presiden soal bencana Mentawai dan Merapi di Yogyakarta. Saya sendiri ikut menyaksikan briefing yang dipimpin RI-1 dan RI-2 itu.
Presiden terlihat sedih dengan adanya bencana itu dan segera mengkoordinasikan para pejabat terkait untuk berkunjung ke daerah yang terkena tsunami. Ketika itu, Presiden sempat mempertanyakan kenapa tim pertama yang datang ke lokasi bencana tidak bisa berkomunikasi untuk langsung melaporkan situasi. Kondisinya memang berat.Lokasinya jauh dan saluran komunikasi saat itu terganggu. Bahkan telepon satelit juga tidak jalan.

Wartawan dadakan
Akhirnya rombongan Presiden berkunjung ke lokasi bencana di Mentawai. Saya termasuk yang ikut ke sana.Tidak semua anggota rombongan Presiden bisa ikut, karena tempat yang terbatas. Saya naik helikopter bersama Juru Bicara (Jubir) Presiden Julian Aldrin Pasha, Pangdam Bukit Barisan, dan pejabat lainnya. Saya lupa jenis helikopternya, yang jelas buatan Rusia. Helikopter itu sebenarnya muat untuk 30 orang, namun hanya diisi 10 orang, karena membawa banyak bantuan, dan bahan bakar.
Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam 15 menit. Sepanjang perjalanan saya tersadar bahwa Indonesia sangatlah luas. Dari Padang ke Pulau Pagai saja sejauh itu, apalagi jika ke ujung negeri ini.
Tiba di lokasi, saya tertegun. Saya kaget dan sedih menyaksikan kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa dan tsunami, serta nasib para korban. Suasana di lokasi saat itu sangat panas. Saya bahkan sampai dehidrasi, dan menghabiskan banyak air minum yang saya bawa. Bisa dibayangkan bagaimana korban selamat dan pengungsi menghadapi kondisi itu.
Apalagi, saat itu bantuan juga belum banyak yang sampai. Ini karena kondisi alam di sana cukup berat. Bahkan, beberapa bantuan terpaksa dijatuhkan dari helikopter untuk menjangkau lokasi yang sulit dicapai.
Melihat para pengungsi saya merasa sedih. Mereka saudara-saudara kita dan tidak ada bedanya dengan kita. Korban yang meninggal juga mengingatkan saya bahwa suatu saat semua juga akan berpulang menghadap Allah, dengan cara yang berbeda-beda. Saat itu, mewakili perusahaan di group Bakrie, saya memberikan bantuan melalui Gubernur karena pengungsi membutuhkan bantuan secepatnya.Saat berkunjung ke lokasi itu, ada pengalaman yang tak bisa saya lupakan. Ikut di rombongan Presiden, saya juga merangkap menjadi wartawan dadakan. Cerita bermula ketika wartawan ANTV gagal ikut rombongan karena terbatasnya tempat.
Saat tiba di lokasi, ada dokter kepresidenan yang bilang: “Pak, ini ada titipan.”
Titipan apa, pikir saya. Ternyata, itu sebuah kamera camcorder, titipan Mbak Uni Lubis, Pemred ANTV.
”Wah, kok jadi saya yang kerja meliput,” pikir saya. “Tapi nggak apa-apa lah.”
Lalu saya mengambil gambar bersama wartawan lain–kalau tidak salah dari Trans TV dan RCTI.
Setelah selesai, saya lapor ke Mbak Uni bahwa hasilnya mungkin kurang bagus, karena saya tidak mempunyai pengalaman jadi wartawan.
Lucunya, banyak orang di Jakarta yang bertanya: “Nin kamu ikut ke Pagai Selatan? Kok, nggak kelihatan?” Saya jawab saja: “Ya jelas nggak kelihatan, wong saya yang ambil gambar… hahaha.”
Sorenya kami kembali ke Padang dan bermalam di Mess Semen Padang. Besoknya rombongan Presiden bertolak ke Hanoi untuk mengikuti KTT ASEAN.
Pengalaman ikut rombongan Presiden ini juga mengesankan. Jadwalnya padat dan melelahkan. Saya juga jadi tahu bagaimana protokol dan kesibukan dari dalam. Bagaimana Presiden menerima laporan, bagaimana memberi perintah, dan sebagainya.

Presiden patut diberi apresiasi. Saya melihat sendiri di saat-saat genting seperti itu Beliau sigap mengambil keputusan.
Perencanaan nasional
Banyak pelajaran yang saya peroleh dari mengunjungi Mentawai dan lokasi-lokasi bencana di sana. Bencana yang sering terjadi, membuat kita harus meningkatkan kewaspadaan. Kita tinggal di kawasan yang rawan bencana. Negeri kita yang luas ini ada di pertemuan dua lempengan dan memiliki banyak gunung berapi.
Di satu sisi, itu menguntungkan karena tanah kita subur dan sumber daya alam kita berlimpah. Namun, di sisi lain, ini semua menuntut upaya lebih dari kita dalam mengantisipasi bencana. Kita memang tak bisa mengalahkan alam, tapi kita bisa mengantisipasinya sehingga bisa meminimalkan jumlah korban jiwa dan harta benda.
Untuk Indonesia yang begitu luas ini, kita mesti berpikir untuk membuat perencanaan nasional. Di dalamnya, meliputi pemetaan terperinci tentang daerah-daerah yang rawan bencana, berbagai kebutuhan jika terjadi bencana, pelatihan warga, dan lain sebagainya.
Perlu diperhatikan juga bagaimana menciptakan sistem peringatan dini (early warning system) yang lebih baik. Selain itu, jalur evakuasi juga perlu dipikirkan. Bayangkan saja, di Mentawai, selisih waktu antara gempa dengan tsunami hanya berselang sekitar lima menit. Jadi, jika ada peringatan tapi tak tahu harus evakuasi ke mana, juga percuma saja.Ini semua harus dipikirkan dalam perencanaan nasional yang komprehensif dan matang. Haruslah jelas seperti apa kebutuhannya. Masa setiap bencana kita harus minta bantuan luar negeri. Kita harus bisa mandiri. Semua itu bisa dilakukan dengan dana yang tak besar.
Perlu langkah taktis untuk soal ini. Misalnya saja, pemenuhan kebutuhan sarana bencana digabung dengan pemenuhan kebutuhan sarana pertahanan atau alutsista. Ini belajar dari pengalaman bahwa alutsista selalu dibutuhkan untuk penanggulangan bencana. Misalnya helikopter, pesawat, kapal, dan sebagainya.
Saat ke Wasior saja, Presiden naik kapal perang agar tak terganggu cuaca buruk. Ibaratnya menyelam sambil minum air. Sambil memenuhi peralatan bencana, sambil memperkuat alutsista. Akhirnya kita dapat dua manfaat sekaligus.

Pelibatan kalangan swasta juga penting dilakukan. Kalau suatu saat saya mempunyai rezeki dan waktu, saya juga tertarik fokus ke sektor penanggulangan bencana, meliputi penanganan korban, rehabilitasi korban, telekomunikasi di daerah rawan bencana, dan sebagainya. Tentunya banyak pengusaha yang akan bersedia turut serta.
Namun, sekali lagi, harus ada perencanaan matang dulu untuk ini, harus jelas dulu national plan-nya. Setelah jelas, baru swasta bisa masuk. Kalau swasta merencanakan sendiri, susah. Nanti tidak sesuai dengan plan pemerintah. Jadi, pemerintah harus memetakan di mana peran swasta di sektor ini.
Sinergi keduanya akan sangat membantu dan bisa jadi solusi bila terjadi bencana. Intinya semua harus disiapkan secara matang dalam skala nasional. Suka tidak suka, kita hidup di daerah bencana, dan langkah terbaik yang bisa kita lakukan adalah selalu siap menghadapinya
14 Responses to “Tsunami Mentawai, Presiden SBY, dan Wartawan Dadakan”
Leave a Reply











menarik pak.. baru tau juga, pantesan gak nongol di tv, rupanya jadi kameramen dadakan hahaha
salut buat pak anin..
tulisan yang bagus..
memang pemerintah harus segera ada mational plan untuk bencana
salut buat mas anin.. seru juga ceritanya
pengalaman yang mengesankan ya mas.. semoga bencana alam di Indonesia cepat berlalu
nilai plus untuk tulisan dan kesaksian ini, artinya Presiden berbuat bkn mencari popularitas spt yg dituduhkan org2 yg tak bertanggung jawab. Ijin share ya pak…..
menarik baca tulisan pak Anin dan pengalaman jadi wartawan-nya..
pak, kapan2 liputan bareng yukk
Nora, haha..boleh juga tuh
Kalo perencanaanya dah ada, lalu butuh rezeki, silahkan bantu mr. machmud jualan logam mulia 1 kontainer (kira2 65-70 ton). Insya Allah fee nya cukup buat kegiatan mas anin, saya jamin tdk ada pungli kecuali pajak resmi untuk negara dan biaya2 resmi lainnya (cont; notaris) & syukur-syukur kalo kegiatannya lulus uji kelayakan bisa dpt tambahan dana hibah. Amien..
Info terakhir yg saya tahu, cina butuh suplay kira2 200ton per tahun.
Selalu tertarik untuk membaca tulisannya Pak Anin.
terima kasih Alif
wah ternyata ikut kesana juga ya kang anindya.
hahahaha keren pak… Kita harus serba bisa apalagi dalam situasi genting… Semua nya harus dipikirkan dengan optimal dan cepat… Termasuk waktu jadi wartawan ANTV dadakan…
Ngomong2 setelah hasil liputan dikirim ke pemred ANTV..dapat fee khan pak?,
lumayan buat upah pemikiran bpk anin… Hahahaha
@mantap: sayangnya gak dapat fee tuh hehhe..