• posted by Anindya Jul 26th, 2010

    Penamdatanganan MoU di IPB

    Penamdatanganan MoU di IPB

    Akhir bulan Juni lalu, saya berkunjung ke Institut Pertanian Bogor (IPB). Saya datang bersama Yayasan Bakrie Center atau Bakrie Center Foundation (BCF) untuk melakukan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan perguruan tinggi ternama di bidang ilmu pertanian tersebut.

    Kerjasama yang kami jalin dengan IPB ini menyangkut dua hal, yaitu program pasca sarjana dan penelitian kebijakan atau policy research. Dua program itu dipilih karena keduanya sangat penting dan bisa menjadi kunci untuk kemajuan Indonesia di masa mendatang. Untuk dua hal tersebut BCF akan menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi yang kompeten dan ahli di bidangnya masing-masing.

    Kami bekerja sama dengan IPB karena terbukti menjadi perguruan tinggi terbaik di bidang pertanian. IPB juga dikenal  perguruan tinggi riset yang berkapasitas internasional. Itu bisa dilihat dari visi IPB yang bertekad menjadi universitas riset terkemuka di Asia dengan kompetensi utama pertanian tropika, berkarakter kewirausahaan, dan bersendikan keharmonisan.

    Setelah menjalin kerjasama dengan IPB, BCF menuju Bandung dan menjalin kerjasama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Selain itu, dalam waktu dekat BCF juga akan menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi negeri lainnya yaitu UGM dan UI, yang menjadi target kerja sama kami di tahun ini. Tahun depan, kami akan bekerja sama dengan perguruan tinggi negeri di luar Jawa.

    Dengan demikian, diharapkan semakin banyak putra-putri negeri ini berprestasi bisa melanjutkan kuliah S2, terutama mengikuti program akselerasi. Jika memungkinkan, kami juga akan menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi maupun research center di luar negeri. Fokus kerjasama di bidang policy research di kawasan Asia Tenggara.

    BCF merupakan bagian dari gerakan Bakrie untuk Negeri (BUN). Kami mencoba memberikan, apa yang bisa kami lakukan untuk negeri ini. Ada juga program tentang kesehatan, penanggulangan bencana dan sebagainya. Mengapa Yayasan Bakrie Center fokus pada program pasca sarjana? Ini karena kami melihat Bangsa Indonesia memerlukan banyak lulusan S2 untuk meningkatkan daya saing dan kualitas bangsa.

    Memang saat ini pendidikan tinggi kita telah mengalami kenaikan tajam sejak kemerdekaan. Menurut sebuah studi, pada tahun 1950 hanya ada 10 perguruan tinggi dengan 6.500 mahasiswa. Di tahun 1970, ada 450 perguruan tinggi swasta dan negeri dengan 237 ribu mahasiswa, dan pada tahun 1990 kita sudah memiliki 900 perguruan tinggi dengan 141 ribu dosen dan hampir 1.486.000 mahasiswa.

    Pada pertengahan tahun 1980-an, perguruan tinggi negeri memiliki rasio jumlah mahasiswa-dosen lebih dari (14 banding 1) ketimbang perguruan tinggi swasta (46 banding 1). Sekitar 80-90 persen anggaran universitas negeri dibiayai dari subsidi pemerintah.

    Namun demikian, Indonesia masih tertinggal jauh dibanding negara-negara seperti China dan India. Dua negara tersebut patut kita teladani, dalam hal jumlah warga yang pernah mengenyam bangku pendidikan tinggi. Data menunjukkan kita hanya meluluskan 339 ribu sarjana tahun ini, di mana hanya sebagian kecilnya saja yang merupakan master atau doktor. Jumlah itu berlipat dua dari 15-20 tahun lalu, tapi masih terlampau jauh sebelum kita bisa berkompetisi di kancah global.

    anindya bakri 3Menurut sejumlah laporan, sekitar 6 juta orang lulus dari universitas di China setiap tahunnya, di mana 800 ribu diantaranya adalah mahasiswa teknik. India melahirkan tiga juta sarjana S-1, dan hampir 750 ribu lulusan pasca-sarjana, setiap tahunnya. Negeri ini telah menjadi rahim terbesar kedua di dunia bagi kelahiran ilmuwan dan insinyur, dan juga dokter.

    Sejumlah universitasnya, seperti Indian Institutes of Technology (IITs), diakui di dunia memiliki standar pendidikan yang tinggi. Bahkan di Thailand, Dewan Pendidikan memperkirakan di tahun 2007 jumlah mahasiswa baru yang mendaftar di program S-1 antara tahun 2007 dan 2016 adalah sekitar 500 ribu setiap tahun, yang diperkirakan bakal melahirkan 300-400 ribu sarjana setiap tahun.

    Sebenarnya, banyak mahasiswa kita yang cerdas, namun tak banyak yang bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang pasca sarjana. Jangankan S2, kesempatan untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi saja juga sangat terbatas. Hampir 90 persen lulusan SMA tidak bisa melanjutkan. Padahal, untuk maju kita memerlukan banyak lulusan S2.

    Saya sendiri kebetulan beruntung bisa mengenyam pendidikan pascasarjana, jadi saya tahu benyak ilmu yang bisa kita dapatkan jika kita berkesempatan studi sampai S2. Apalagi ke depan dalam menghadapi persaingan global lulusan S2 yang kompeten akan sangat dibutuhkan. Agar Indonesia menjadi negara yang berdaya saing.

    Karena itulah, Bakrie Center Foundation terus mendukung program pendidikan pasca sarjana ini. Program ini adalah program fast tract, yakni, seorang mahasiswa S1 yang potensi akademiknya bagus, bisa langsung melanjutkan ke S2. Nanti pada tingkat akhir, bisa langsung ambil matakuliah yang diajarkan di S2.

    Jadi, separo matakuliah di S2 bisa diambil di tahun keempat S1. Lalu, sisanya diselesaikan pada tahun kedua, sehingga langsung masuk ke S2. Dalam waktu lima tahun, mereka sudah bisa menyelesaikan S1 sekaligus S2.Mereka yang menerima program beasiswa ini nanti akan menjalani tes dengan pusat-pusat penelitian di Indonesia.

    Setiap tahun BCF menyediakan dana sebesar US$ 50 ribu per tahun untuk masing-masing universitas partner. Beasiswa itu sudah meliputi biaya kuliah, buku-buku, biaya hidup, penelitian, publikasi atau pun praktikum, dan lain-lain. Jadi, cukup komplet sehingga sang mahasiswa penerima beasiswa ini dapat menyelesaikan studinya dengan baik dan cepat. Program ini untuk semua program studi.

    Kami, keluarga besar Bakrie mencoba melakukan apa yang kami bisa. Ini juga merupakan inspirasi dari kakek saya, Ahmad Bakrie. Kakek saya otodidak, tidak pernah kuliah. Ia menjadi pedagang.  Negara Indonesia yang sejahtera dan makmur hanya terwujud jika kita menguasai ilmu pengetahuan.  Itulah yang mungkin mengilhami beliau untuk menyekolahkan anak-anaknya ke ITB.

    Selain, BCF, kami juga punya Yayasan Pendidikan Bakrie, yang mendirikan Universitas Bakrie pada 2006. Gagasan awalnya adalah school of management, lalu berkembang pada ilmu sosial dan teknik. Sekarang sudah ada 1000 mahasiswa. Dalam waktu dekat diharapkan sudah ada kampus di Lido. Nanti, Universitas Bakrie juga akan bekerja sama dengan kampus-kampus negeri ternama di Indonesia, misal, dengan ITB.

    Di generasi kakek saya, tanah, tenaga kerja, dan modal, adalah faktor-faktor produksi yang utama. Pada generasi ayah saya, informasi ikut masuk hitungan. Di generasi saya, faktor informasi itu bergeser dari soal kuantitas ke kualitas. Namun, untuk generasi anak saya, informasi itu akan jadi kian mengglobal sedemikian rupa sampai ke level yang tak bisa kita bayangkan saat ini.

    Karena itulah, sistem pendidikan kita harus mampu mempersiapkan anak-anak Indonesia untuk masa depan yang akan semakin diwarnai persaingan global yang sengit. Karena itu, meningkatkan kualitas pendidikan dengan pendidikan pascasarjana penting artinya. Saat mengunjungi IPB dan ITB saya senang sekali karena kampus tersebut bertekad melahirkan lulusan yang berdaya saing dan berjiwa wirausaha.

    Tour Kampus, melihat pabrik Jus Rosella

    Tour Kampus, melihat pabrik Jus Rosella

    Misalnya di IPB, saya gembira sekali mendengar penjelasan Rektor IPB Herry Suhardiyanto bahwa IPB ke depan bukan saja akan menjadi universitas berbasis riset, tapi juga berbasis entrepreneurship. Pengembangan jiwa wirausaha juga tertuang dalam visi IPB.

    Ini saya rasa hal yang sangat baik. Lulusan IPB memang punya peluangnya untuk berusaha di bidang pertanian. Dengan bekal ilmu pertanian atau agrikultur, mereka bisa jadi pemain dunia dari Indonesia. Apalagi Indonesia memiliki modal tanah yang subur dan air yang baik. Modal yang tidak banyak dimiliki negara lain.

    Saat di IPB, saya juga sempat diajak berkeliling melihat inovasi mereka di bidang industri pertanian. Misalnya saya ditunjukkan pabrik pembuatan jus rosella, dan lainnya yang ada di kampus itu. Mereka meyakinkan saya bahwa saat keluar dari IPB lulusannya akan memiliki jiwa wirausaha dan mampu bersaing.

    Pak Rektor juga menegaskan di kampusnya, jiwa wirausaha itu dipupuk dengan sungguh-sungguh. Makanya IPB tak segan-segan bekerjasama dengan para pebisnis dan dunia industri. Menurut Beliau, pertanian atau agribisnis tidak akan maju tanpa partnership dengan dunia usaha. ITB dan kampus lainnya tentu juga punya hal yang sama namun dengan bentuk berbeda. Misalnya ITB dengan teknologinya bisa mengarahkan mahasiswa menjadi technopreneur. Demikian pula dengan UGM dan UI.

    Dari kampus-kampus itu saya membawa dua optimisme untuk masa depan Indonesia. Pertama akan banyak lagi lulusan S2 yang membantu meningkatkan daya saing Bangsa. Kedua, lebih dari itu, para lulusan ini akan berbekal jiwa wirausaha dan akan menjadi pengusaha yang inovatif. Nah, dengan banyaknya entrepreneur yang lahir dari kampus ini saya yakin masa depan Indonesia akan semakin cemerlang.  Semoga!

    Share this post
    • Print this article!
    • Facebook
    • Twitter

10 Responses to “Kita Perlu Lebih Banyak Lulusan S2 dan S3”

  1. gugahseni says:

    Sebenarnya sebelumnya “membuat” lulusan S2 dan S3, kita harus (terlebih dahulu mungkin) pikirkan bagaimana memberi “kualitas” bagi lulusan SMU dan S1 yang ngg bisa memperoleh kesempatan sekolah/pendidikan tingkat lanjut (banyak lho jumlahnya)…
    Daya saing tidak semata2 titel tapi profesionalisme dan kemumpunian dalam pekerjaan itu.
    Maaf ini hanya opini pribadi dan saya termasuk org2 yang mungkin punya keinginan berkembang dan tumbuh dalam berkarya, namun belum berkesempatan untuk mendapatkan “support”

  2. saya Jodhi. saya seorang mahasiswa pascasarjana ITB program studi Teknik Panas Bumi. Saat ini saya akan memasuki semester tiga yang berarti akan mulai menyusun tesis. hasil studi saya sejauh ini bisa dibilang sangat memuaskan. Apakah program kerja sama dengan ITB termasuk juga membuka peluang beasiswa untuk mahasiswa S2 yang sedang mengikuti studi? Bila ya, saya sangat berminat.
    Saya berlatar belakang Kimia, tapi nekat mengambil program studi teknik panas bumi karena saya melihat sektor energi di negeri ini adalah hal yang sangat vital. potensi panas bumi Indonesia yang terbesar di dunia adalah modal yang menjanjikan bahwa kita bisa memenuhi kebutuhan energi, khususnya listrik dengan pengembangan PLTP atau pembukaan PLTP baru di banyak daerah.

  3. Dipto Harendra Pratyaksa says:

    Good initiative bang anin!
    Can we replicate you?
    Because we need more people like you in the nation.

  4. Faradiba Ismail says:

    Wuah hebat, mau donk Pak Anin,..
    Great News nich… ^^
    Pak Anin is The Best..

  5. Ilmar Maulana says:

    Maz anin yth, bangsa ini udh kbnykan orang2 lulus s2,s3 yg pinter teori n analisa not action. Kami lbih stuju BCF mnyupport kmandirian entrepreneur2 muda kita.

  6. Suparta Azhari says:

    Betul Bang S2/S3 Sngt kurng di indonesia dan Bakrie foundation merupakn program yg MULIA Dan mdh2an brjln Trus.

  7. Auditya Ingresjz says:

    Semoga seteleh lulus S2, dunia pekerjaan makin terbuka…

  8. Wahhh..maju terus IPB…maju pertanian Indonesia,,

  9. IGNATIUS PALANTI says:

    saya IGNATIUS PALANTI, adalah mahasiswa baru Tahun Ajaran 2010 Program Pascah Sarjana Universitas Tadulako Palu, sala satu Universitas Negeri yang ada di Kota Palu, Central Sulawesi. saya sangat tertarik dengan program beasiswa yang dicanangkan BCF dan saya sangat berminat akan tetapi yang menjadi pertanyaan saya apakah BCF dapat membantu kami yang ada diluar daerah untuk masuk dalam program beasiswa untuk S2, walaupun kami tidak masuk dalam salah satu perguruan tinggi yang bekerja sama dengan BCF, mohon penjelasan, trima kasih.

  10. Lusi Lestari says:

    Pak Anin
    Saya salah satu staf di Bakrie Sumatera Plantations, kebetulan Alumni IPB, apakah ada peluang BUN memberikan peluanng besasiswa untuk Karyawan Bakrie Group di IPB? bagaimana prosedurenya? Thx.

Leave a Reply

Spam Protection by WP-SpamFree