SEARCH :
  • posted by Anindya Sep 28th, 2012

    aif-slide3-apec2013Dalam perjalanan menuju ke bandara Vladivostok, setelah mengikuti APEC CEO Summit, akhir pekan lalu, saya mengagumi Russky Bridge. Jalan tol dan jembatan berpemandangan laut yang indah ini menghubungkan Vladivostok dengan Pulau Russky, tempat berlangsungnya APEC CEO Summit dan KTT Pemimpin Ekonomi APEC yang berakhir pada 9 September 2012.

    Jembatan gantung sepanjang 1.104 meter ini menjadi etalase sukses Rusia sebagai tuan rumah dan ketua APEC 2012 dalam membangun infrastruktur dan memenuhi agenda penting soal konektivitas. Tak kurang dari 26 miliar dollar AS diinvestasikan Pemerintah Rusia untuk membangun Vladivostok.

    Presiden Vladimir Putin memiliki visi jauh ke depan. Pembangunan infrastruktur di wilayah paling timur Rusia ini tak hanya untuk menyambut perhelatan APEC, tetapi juga untuk meluncurkan Vladivostok sebagai ”ibu kota keuangan dan bisnis di wilayah Timur Jauh”. Vladivostok terletak berdekatan dengan perbatasan China dan Korea.

    Apa yang dicapai Rusia selama periode kepemimpinan di APEC tahun 2012 membuat saya berpikir: apa yang bisa kita lakukan selama periode kepemimpinan Indonesia di APEC 2013?

    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya di APEC CEO Summit 2012 telah meluncurkan tema APEC 2013, yakni ”Resilient Asia Pacific, Engine of Global Growth”. Tema ini memperhitungkan pentingnya memperkuat ketangguhan kawasan APEC dalam menghadapi berbagai macam krisis global dan fakta bahwa Asia Pasifik saat ini adalah motor pertumbuhan global.

    Menurut saya, tema ini tepat. Pentingnya ketahanan ekonomi kawasan juga menjadi tema pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia 2013 di Davos, Swiss, Januari 2013, yang akan mengusung tema ”Resilient Dynamism”.

    Ada tiga pilar yang menjadi prioritas Indonesia dalam periode kepemimpinan APEC 2013. Pertama, memastikan tercapainya tujuan yang dirumuskan dalam Deklarasi Bogor 1994, ketika Indonesia pertama kali menjadi tuan rumah dan ketua APEC, yang intinya mewujudkan arus perdagangan dan investasi yang lancar dan terbuka di kawasan Asia Pasifik.

    Kedua, mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan pelibatan semua pemangku kepentingan, termasuk perempuan serta usaha skala kecil dan menengah.

    Ketiga, mewujudkan konektivitas dengan memperhatikan pertumbuhan yang pro terhadap keselamatan lingkungan hidup.

    Bisa Menjadi Contoh

    Sebelum CEO Summit, saya mengikuti pertemuan ke-4 Dewan Penasihat Bisnis APEC (APEC Business Advisory Council/ABAC) 2012 yang digelar di hotel terapung, The Legend of The Seas, yang bersandar di pelabuhan Vladivostok. Pertemuan berlangsung tiga hari. Salah satu sesi adalah ABAC Women for Economy Forum.

    Sebagai wakil ABAC dari Indonesia, di forum itu saya menyampaikan apa yang telah dicapai Indonesia dalam meningkatkan peran ekonomi dan politik perempuan. Di bidang politik, Indonesia pernah memiliki pemimpin perempuan, Presiden Megawati Soekarnoputri. Banyak negara anggota APEC yang belum memiliki pengalaman yang sama. Indonesia menetapkan kuota 30 persen keterwakilan perempuan di parlemen (kini pencapaiannya 18 persen).

    Indonesia memiliki sejumlah anggota kabinet perempuan, termasuk Mari Elka Pangestu (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) dan Linda Amalia Sari (Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) yang mewakili Indonesia dalam merumuskan Deklarasi San Francisco. Karen Agustiawan, satu dari wakil ABAC, adalah Direktur Utama Pertamina, BUMN terbesar Indonesia.

    ABAC merekomendasikan satu dari tiga wakil ABAC adalah perempuan. Indonesia bisa jadi salah satu contoh pemenuhan kuota ini karena banyak negara lain belum memenuhinya.

    Peran perempuan sebagai motor penggerak ekonomi di Indonesia bisa digambarkan dari peran penting mereka dalam pengambilan keputusan ekonomi di tingkat rumah tangga. Produk domestik bruto (PDB) Indonesia sekitar 850 miliar dollar AS. Sekitar 60 persen PDB ditopang oleh konsumsi domestik. Di Indonesia, perempuan memegang 65 persen keputusan konsumsi sehingga sedikitnya 300 miliar dollar AS konsumsi diputuskan kaum perempuan. Ini sumbangan besar bagi pertumbuhan 6,5 persen yang dicapai Indonesia.

    Komitmen Indonesia

    Forum diskusi ABAC mengenai peran perempuan juga membahas hasil survei Economist Intelligence Unit. Dalam laporan survei bertajuk ”Women’s Economic Opportunity 2012”, Indonesia menduduki peringkat ke-85 dari 128 negara yang disurvei menyangkut peluang ekonomi bagi perempuan.

    Peringkat ini di bawah Nikaragua dan Sri Lanka, tetapi di atas Maroko dan Bolivia. Thailand di peringkat ke-47, tertinggi di ASEAN. Malaysia di peringkat ke-53. Saya optimistis ada ruang untuk meningkatkan peringkat Indonesia dalam posisi sebagai ekonomi yang memberikan ruang dan pelibatan perempuan jika kita fokus membenahi area yang jadi prioritas kita.

    Untuk memperkuat komitmen Indonesia, Linda Amalia Sari menyampaikan beberapa prioritas Indonesia dalam APEC Women for Economy Forum 2013 yang akan digelar di Bali.

    Pertama, meningkatkan akses pendidikan di bidang sains, teknologi, engineering/teknik dan mekanik (STEM), sekaligus membuka akses finansial, informasi pasar dan jejaring yang memberi akses bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam ekonomi berbasis inovasi. Kedua, APEC harus meningkatkan peluang bagi perempuan yang bergerak di usaha kecil menengah. Ketiga, perlunya koordinasi lebih baik di level domestik, regional, maupun global.

    Pembahasan rekomendasi ABAC untuk perempuan APEC Women for Economy Forum 2013 mencakup kelonggaran cuti mengurus anak, fleksibilitas di tempat kerja, penyediaan ruang bagi anak di kantor, dan pendidikan prasekolah. Juga dibahas akses lebih besar bagi perempuan menikmati pendidikan di bidang STEM sehingga dapat berkontribusi dalam inovasi yang mendorong pertumbuhan.

    Women for Economy Forum juga sepakat memonitor berkala di negara-negara APEC untuk peningkatan persentase lebih besar bagi perempuan di level eksekutif. Survei Unleashing Women Leadership oleh McKinsey dan Femina baru-baru ini menunjukkan, 6 persen perempuan Indonesia duduk di level direksi, 6 persen di level CEO.

    Isu peningkatan peran perempuan yang menguat sejak KTT APEC di Hawaii, Amerika Serikat (2011)—dan mendapat penegasan pada KTT APEC di Rusia—tampaknya harus difinalisasi secara konkret di KTT APEC 2013. Saya optimistis, inilah kontribusi penting bagi kepemimpinan Indonesia di forum APEC setahun ke depan. Tantangan kita adalah mengerjakan pekerjaan rumah sehingga peran perempuan di Indonesia jadi bagian penting dari bukti sukses Indonesia di kepemimpinan APEC 2013.

    Anindya Novyan Bakrie: Anggota Dewan Penasihat Bisnis APEC untuk Indonesia, Co-chair APEC CEO Summit 2013

    Artikel ini dimuat di Harian KOMPAS, 17 September 2012.

    Share this post
    • Print this article!
    • Facebook
    • Twitter

2 Responses to “APEC 2013 dan Peran Perempuan”

  1. Sehingga kedepan semuanya bisa ikut bersaing dan berkarya berdasarkan kemampuan dan profesionalitas.nya ya pak, tanpa lagi membeda-bedakan gender, ras, dll.

  2. arif says:

    perempuan bersekolah dan bekerja negara semakin maju ekonominya. Ini salah satu faktor kemajuan Barat : perempuan bekerja.

    namun efeknya jelas, penceraian dan anak tidak tumbuh dengan kasih sayang penuh.

    Nah, Nyonya Anindya Bakrie wanita karier atau ibu rumah tangga, Mas?

Leave a Reply

Spam Protection by WP-SpamFree