SEARCH :
  • posted by Anindya Nov 21st, 2010

    99877_peluncuran-bcf

    Hari Kamis-Jumat lalu, 17-18 November 2010, saya bersama keluarga besar Bakrie berada di Singapura untuk meresmikan dua program Bakrie Center Foundation (BCF). Dua program tersebut adalah pusat kajian strategis Bakrie Professorship in Southeast Asia Policy dan program beasiswa Bakrie Graduate Fellowship di S. Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University (RSIS-NTU), Singapura.

    Acara yang diadakan di Chinese Heritage Center ini, dihadiri para profesor RSIS, diplomat Singapura, dan keluarga besar Bakrie. Saya sengaja memilih tempat peresmian di Chinese Heritage Center, karena sebagai seorang pribumi, saya ingin merobohkan tembok prasangka etnis yang kadangkala masih menjadi rintangan bagi hubungan kedua negara.

    Peresmian pusat kajian dan beasiswa tingkat pascasarjana S2 BCF ini bukan yang pertama. Sebelumnya, akhir bulan Juli lalu, BCF telah meresmikan pusat kajian di Washington DC, Amerika Serikat. Namanya di sini adalah Bakrie Chair for Southeast Asian Studies bekerja sama dengan Carnegie Endowment for International Peace, think tank yang sangat disegani di Amerika Serikat.

    Untuk program beasiswa, sebelum bekerjasama dengan NTU, BCF telah menjalin kerjasama dengan universitas dalam dan luar negeri. Untuk universitas luar negeri, BCF sudah bekerjasama dengan Stanford University, Amerika Serikat. Sedangkan dalam negeri,  program ini  sudah diluncurkan bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM).99875_peluncuran-bcf

    Mengapa BCF ingin membantu para mahasiswa untuk mengikuti studi di jenjang master atau S2?

    Saya sudah pernah menjelaskan hal ini di tulisan saya sebelumnya. Intinya, kami ingin agar anak-anak muda Indonesia punya banyak kesempatan mengenyam pendidikan pascasarjana.  Sekarang ini jumlah lulusan S2 di Indonesia masih sangat sedikit. Setiap tahunnya hanya 20 ribu master yang dicetak Indonesia. Sementara negara Asia lainnya seperti India dan Cina, bisa meluluskan 700 ribu dan 800 ribuan master.

    Karena itulah, BCF sebagai yayasan pendidikan dan riset, berkeinginan menambah jumlah master di Indonesia. Kami mantargetkan dalam setahun ada sekitar 100 master yang dilahirkan, sehingga nantinya dalam tempo 10 tahun BCF bisa menghadirkan 1000 master. Ini cita-cita kami.

    99878_peluncuran-bcfCita-cita ini juga berangkat dari pengalaman keluarga Bakrie sendiri. Dulu kakek saya Achmad Bakrie sebagai generasi pertama tidak berkesempatan mengenyam pendidikan hingga sarjana. Lalu ayah saya Aburizal Bakrie dan saudara-saudaranya di generasi ke dua berkesempatan kuliah S1. Baru kemudian saya dan generasi ketiga bisa mengenyam pendidikan sampai S2. Saya sendiri lulusan program MBA dari Stanford University, AS.

    Sering timbul dalam benak saya, apa kita sekarang harus menunggu tiga generasi untuk bisa mengenyam pendidikan S2? Sementara di luar sana banyak anak-anak berprestasi yang mungkin tak seberuntung keluarga kami. Karena itulah, keluarga Bakrie mendirikan BCF. Dana BCF untuk program beasiswa ini murni dari keluarga, bukan dana perusahaan atau CSR kelompok usaha Bakrie.

    Dengan semakin banyaknya lulusan pascasarjana dari universitas bermutu, kita berharap nanti lulusan pascasarjana akan menjadi penyumbang sumber daya manusia handal bagi Indonesia. Indonesia saat ini perlu SDM yang berdaya saing, sebab posisi Indonesia semakin kuat di dunia internasional.

    Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia sudah menjadi pemimpin. Apalagi Indonesia merupakan satu-satunya wakil ASEAN di G20 dan dilihat AS dan Rusia sebagai kekuatan pengimbang China. Soal ini sudah saya jelaskan di tulisan saya sebelumnya.

    99874_peluncuran-bcfOleh karena itu, BCF lalu mendirikan lembaga kajian kebijakan strategis tentang Asia Tenggara. Pusat kajian ini pertama kali kami dirikan di Amerika Serikat, bersama Carnegie Endowment, dengan nama Bakrie Chair for Southeast Asian Studies. Lalu di Singapura menyusul Bakrie Professorship for Southeast Asian Studies, bekerjasama dengan Rajaratnam School of International Studies. Sedang dijajaki pendirian pusat kajian lain di China dan Australia.

    Di Singapura, pembentukan pusat kajian ini  mendapat sambutan baik dari pemerintah setempat. Bahkan Pemerintah Singapura ikut mendanai program ini.  Pembiayaan pusat kajian ini, dari BCF 50 persen dan dari pemerintah Singapura 50 persen. Totalnya sekitar Sin$6 juta dolar atau sekitar Rp40 miliar. Ini akan menjadi dana abadi yang akan menghidupi kelangsungan lembaga dan berbagai studi yang akan dilakukanya. Ini kerjasama yang menarik, sebab kalau biasanya berupa kerjasama government to government atau G to G, ini adalah business to government atau B to G.

    99876_peluncuran-bcfPemerintah Singapura menyambut baik program BCF karena satu visi dengan kita untuk memajukan Asia Tenggara. Ini kabar gembira. Dalam pidato saya di acara itu, saya katakan kerjasama ini bisa mempererat hubungan dua negara. Indonesia dan Singapura memegang peranan penting di ASEAN dan dua akan menjadikan ASEAN lebih besar lagi di panggung dunia.

    Kedua negara memiliki potensi saling melengkapi. Di satu sisi, Indonesia adalah negara besar yang kaya sumber daya alam. Di sisi lain, Singapura merupakan negara kecil dengan sumber daya manusia yang kuat.

    Dekan RSIS-NTU, Barry Desker juga berpendapat serupa. Dia berharap hubungan kerjasama ini bisa memperkokoh kedua negara dan ASEAN di masa mendatang. Dia juga mengapresiasi inisiatif ini, karena kerjasama BCF dan pemerintah Singapura ini ternyata merupakan kerjasama dengan sektor swasta luar negeri yang pertama.99879_peluncuran-bcf

    Akhirnya, dari lembaga kajian ini kita harapkan akan lahir berbagai pemikiran yang akan mampu menempatkan Indonesia dan ASEAN dalam radar dunia.

    Share this post
    • Print this article!
    • Facebook
    • Twitter

11 Responses to “Seribu Master untuk Perkokoh Asia Tenggara”

  1. Wah,,,sukses!!!!
    Keren banget,,,,,,

  2. Fauzi says:

    Salam,
    Pak, apakah Bakrie juga beasiswa di bidang mobile technology ? Saya ingin memperdalam bidang tsb dan kebetulan saya juga bekerja dalm bidang tersebut ? Terima kasih sebelumnya.

  3. what a plan! good luck..

  4. sukses selalu buat bung anin,…… kami mendukung bung untuk memajukan Bangsa indonesia…. amin…. kalo bukan anak bangsa sendiri, siapa lage yang akan peduli..

  5. Salam.Pak Anin
    isi blognya bagus sekali pak..kita semua berharap mengahasilkan beribu Master Degrees..dan mampu memperbaiki kehidupan bangsa Indonesia jauh lebih baik dari sebelumnya.
    sesudahnya saya ingin sekali bapak memberikan informasi yang lebih dan bagaimana cara memperoleh beasiswa tersebut.regard

    • Anindya says:

      terima kasih untuk informasi silahkan kunjungi website BCF di bakriecenterfoundation.com

  6. subhan says:

    halo pak anin,
    wah saya salut sekali nih sama sosok pak anin, dan merupakan sosok inspirator buat saya.
    saya mau tanya pak. bagaimana cara membagi waktu pak anin, ke masing2 perusahaan yg pak anin pimpin, disela-sela kesibukan pak anin?.
    semoga dapat diceritakan dalam bentuk blog :D saya senang lho pak anin membaca blog pak anin. :)

  7. Salam,
    Saya tertarik dengan program Bakrie Center Foundation. Tapi apakah BCF ada rencana ekspansi program untuk beasiswa riset bidang pengurangan risiko bencana?
    Saya Ardian Perdana Putra, sekarang sedang S2 ‘Disaster Management for National Defense’ di Universitas Pertahanan Indonesia (PTN Kerjasama Diknas-Kemhan). Biaya perkuliahan kami ditanggung pemerintah, tetapi beberapa dari kami kesulitan support biaya hidup. Karena materi kuliah dipadatkan dg sistem modular, kami tidak dapat bekerja pada jam kerja normal. Hal ini membuat mahasiswa non PNS/TNI mengundurkan diri dari pekerjaan masing-masing dan otomatis tidak ada sumber penghidupan selama kuliah.
    Jika Bakrie Center Foundation ada solusi yang bersifat imbal-balik untuk kondisi kami, kami akan sangat berterimakasih. Saya pribadi ingin menawarkan beberapa opsi kerjasama dengan Bakrie Center Foundation, yaitu:
    - Pinjaman lunak dengan pengembalian secara mencicil setelah kuliah selesai
    - Proyek penulisan ‘Buku Saku Siaga Bencana’ yang dapat disebar ke masyarakat luas secara cuma-cuma
    - Ikatan kerja pasca kuliah, untuk bidang yang spesifik pada penanggulangan bencana/pengurangan risiko bencana.
    - Hibah laptop sebagai fasilitas pendukung pendidikan, laptop akan saya gunakan dalam pembuatan makalah, browsing/searching literatur, desain presentasi dan mengerjakan pesanan/proyek freelance untuk mendukung biaya hidup selama kuliah.
    Kemana saya dapat mencari informasi lebih lanjut mengenai program Bakrie Center Foundation?
    Terimakasih,

    Ardian Perdana Putra

    NB: FYI, saya sebenarnya sudah mencoba memasukkan proposal ke Wisma Bakrie Lt. 3 (di situs BCF disebutkan kantornya disana), tetapi saya tanya ke Mbak Marchelly (Kata security, ini sekretaris bapak) proposalnya tidak masuk.

  8. Shinta Halm says:

    Congratulations!!!! Saya lulusan S1 International Business Management dan sangat tertarik untuk mendapatkan informasi mengenai beasiswa S2 di Indonesia. Dimana saya bisa mendapatkan info lengkap & formulirnya?

  9. Dewi says:

    Pak Anindya saya sangat salut dengan ide bapak yang sangat mulia ini….”tidak perlu menunggu 3 generasi untuk meraih S2″. Dan Saya adalah salah satu orang yang sangat tertarik dengan ide bapak tersebut dan mudah2an ada kesempatan juga buat saya untuk meraihnya. Saya lulusan S1 IPB. Mohon ditindaklanjuti ya Pak, karena saya juga sangat berkeinginan untuk meraih S2 tapi terbentur biaya.Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

Leave a Reply

Spam Protection by WP-SpamFree