SEARCH :
  • posted by Anindya Nov 1st, 2010

    Anin di HUT AMPI_2010071004Beberapa waktu lalu, saya diminta menjadi narasumber seminar mengenai kewirausahaan. Acara diadakan oleh Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) untuk memperingati hari jadi mereka yang ke-32. Saya diminta memaparkan kiat-kiat dan pengalaman saya sebagai pengusaha.

    Saya sangat gembira dengan acara seperti ini. Pertama karena saya diminta berbicara mengenai wirausaha, topik favorit saya. Kedua, audiensnya anak-anak muda. Harapan saya, suatu saat anak-anak muda ini akan menjadi pengusaha yang sukses. Sebab, sekarang ini masih jarang anak muda yang mau mengubah mindset mencari kerja dengan menciptakan lapangan kerja.

    Dalam kesempatan itu, saya memaparkan soal wirausaha dalam berbagai sudut pandang. Pertama dari sisi paradigma atau sisi pola pikir. Dalam sisi ini, yang perlu ditekankan adalah paradigma bahwa peran pengusaha bukan peran kelas dua. Kita harus yakin dan merasa pengusaha tidak kalah dibandingkan dengan profesi lainnya, misalnya menjadi pegawai, pejabat pemerintah, politisi atau profesi bergengsi lainnya.

    Kalau kita tengok sedikit sejarah, terutama bagi umat Islam, di sana kita lihat peran pengusaha sangat penting. Misal saat penyebaran Islam ke Nusantara, yang dilakukan para pedagang atau pengusaha dari Gujarat. Bahkan Nabi Muhammad pun adalah seorang pengusaha. Selain itu, juga ada hadits yang mengatakan bahwa dari 10 pintu rezeki, sembilan diantaranya adalah tijaroh atau berdagang. Jadi, berdagang atau menjadi pengusaha itu tidak salah. Belum lagi para sahabat Nabi pun banyak yang datang dari kalangan pengusaha.Anin di HUT AMPI_2010071010

    Paradigma ini penting sebab selama ini banyak anak muda  enggan menjadi pengusaha. Hal ini diperparah dengan banyak sekali stigma bahwa pengusaha itu bukan profesi bergengsi. Seolah pengusaha adalah makhluk yang harus dijauhi karena terlihat selalu berdekat-dekat dengan politik, pemerintah, dan hanya memberikan manfaat bagi kelompoknya sendiri.

    Hal seperti ini jangan sampai membuat kita jadi kecil hati. Sebenarnya banyak sumbangsih yang bisa dilakukan dengan menjadi pengusaha. Di negeri ini, jumlah pengangguran masih cukup tinggi, jumlahnya sekitar sembilan juta jiwa. Pemerintah sendiri menargetkan untuk menurunkannya menjadi enam juta dalam periode pemerintahan kali ini. Begitu juga kemiskinan, dari 32 juta akan diturunkan menuju 22 juta.

    Setiap satu persen pertumbuhan perekonomian nasional, ternyata hanya menyerap 300 ribu tenaga kerja baru. Ini tentu tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja. Makanya pola pikir mencari kerja perlu diubah menjadi pola pikir pengusaha. Dengan begitu kita malah akan membantu menciptakan lapangan kerja dan mengurangi pengangguran. Artinya pengusaha menjadi tulang punggung dan berperan besar untuk menciptakan lapangan kerja baru dan membantu pertumbuhan perekonomian Indonesia.

    Setiap pengusaha atau orang yang ingin memulai usaha tentunya menginginkan kebijakan yang baik dari pemerintah dan berharap iklim usaha di Indonesia kondusif. Namun perlu digaris bawahi, kita sebagai pengusaha atau calon pengusaha harus menghilangkan ketergantungan kepada kebijakan pemerintah. Kalau dilihat, banyak sekali pengusaha berhasil bukan karena tergantung pada aturan, namun karena kemampuan dia membuat lapangan  usaha. Misalnya pengusaha es teler. Usaha es teler itu dibangun bukan karena kebijakan pemerintah. Mereka tidak pernah meminta pemerintah membuat kebijakan agar es teler lebih banyak diminum masyarakat. Usaha ini lebih dari kreativitas mereka dalam berusaha.

    Anin di HUT AMPI_2010071002Contoh lain di dunia maya kita kenal  Kaskus. Ini adalah jejaring sosial  cukup besar yang diciptakan anak muda kita. Kalau lihat di situs pemeringkat website Alexa, Kaskus menempati peringkat tertinggi karena banyak pengunjungnya. Kita tahulah berapa kapitalisasi pasar bagi perusahaan seperti ini di dunia. Nah, saya yakin mereka tidak meminta-minta Menteri Kominfo untuk dibuatkan peraturan untuk menambah pengunjung. Kaskus banyak pengunjung karena melakukan kreasi dan inovasi.

    Kalaupun ada yang bisa kita minta ke pemerintah, itu bentuknya bukan soal  iklim usaha ini kondusif, tetapi lebih pada jalur pendidikan. Pendidikan penting untuk menciptakan pola pikir pengusaha. Kalau kita lihat, tiap tahun lulusan SMA atau sederajat sekitar 3,2 juta lulusan. Dari 2,3 juta lulusan ini hanya 10 persen saja yang bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Nah, 90 persen dari mereka tentu ingin mencari kepastian dalam hidup, entah mereka ingin menjadi pegawai atau ingin usaha.

    Maka sebaiknya pemerintah lebih fokus pada sekolah kejuruan. Di sekolah ini, pemerintah bisa menyiapkan mereka menjadi pengusaha lebih awal.  Kalau menunggu mereka masuk universitas dan diajarkan jadi pengusaha di sana, peluangnya kecil. Sebab jumlahnya hanya 10 persen.

    Kalau dilihat dari jumlah, sekolah kejuruan di Indonesia  tergolong kecil. Di sini hanya ada sekitar 16 sekolah kejuruan, jauh lebih sedikit dibandingkan di Australia yang berjumlah 3600. Belum lagi 16 sekolah itu hanya bicara 50 bidang ketrampilan. Ini adalah jumlah yang tidak besar.

    Di luar negeri, pemikiran untuk menjadi pengusaha sudah dimulai sejak dini. Di China, sejak bangku kelas empat SD sudah mulai diajarkan bagaimana berbisnis. Di Jerman dan AS sekitar 70 persen siswa di usia SMA sudah mengambil sekolah kejuruan. Kalau kita bicara dalam jangka 5-10 tahun, sekolah kejuruan ini yang bisa mencetak pengusaha dalam waktu singkat.Anin di HUT AMPI_2010071000

    Mungkin ada yang berkata, mudah saja saya bicara karena saya kan hanya meneruskan usaha keluarga. Apalagi saya pengusaha generasi ketiga, bukan baru mulai. Banyak yang tidak tahu bahwa meneruskan usaha juga sama beratnya. Bebannya lebih berat, apalagi dengan pendidikan tinggi yang dimiliki. Jika generasi pertama saja yang otodidak bisa, berarti yang menikmati pendidikan sampai pasca sarjana juga harus bisa lebih.

    Nah, di sini bebannya. Belum lagi stigma bahwa generasi ketiga adalah generasi yang merobohkan. Banyak orang mengatakan generasi pertama membangun, kedua mengembangkan, ketiga merobohkan. Stigma seperti ini yang harus dihindari. Caranya dengan membuktikan itu tidak benar yaitu dengan membuat usaha lebih maju dari sebelumnya.

    Sebenarnya negeri kita memberikan banyak peluang untuk berusaha. Kalau kita lihat dari sisi makro, Indonesia berada di satu titik yang sangat strategis secara global. Indonesia dengan penduduk 230 juta  memiliki peluang tersendiri. Apalagi Indonesia masuk G20. Ini bukan karena orang-orang asing suka Bali, tapi karena ekonomi Indonesia sekarang ini nomor 16 terbesar di dunia. Kita juga wakil satu-satunya di Asia Tenggara, lebih dari negara lainnya, baik Singapura maupun Malaysia.

    Secara geopolitik Indonesia ini  negara demokrasi terbesar ke empat di dunia dan negara muslim terbesar di dunia. Jadi peran Indonesia ke depan akan semakin besar. Dari sisi ekonomi politik dan pangsa pasar, peluangnya besar. Jadi kalau kita ingin berusaha, saat ini saya rasa tepat sekali karena memang makro ekonominya sangat mendukung.

    Anin di HUT AMPI_2010071012Nah tinggal bagaimana generasi muda menyambut tantangan itu. Cara membangun usaha cukup mudah. Kita hanya perlu berfikir kreatif inovatif dan out of the box. Untuk menjadi pengusaha handal kita tidak boleh berpikir linear, tapi harus out of the box. Kebanyakan mengeluh soal dana, padahal perusahaan besar memulai tidak dari pendanaan, tapi pemikiran dan jaringan. Kapital itu tidak harus financial capital, tapi bisa networking atau idea capital.

    Selain itu, dalam berusaha jangan pernah takut ambil resiko. Jangan takut gagal dan harus terus berusaha. Dari film Rocky yang dibintang Sylvester Stallone, saya ingat satu kalimat yang diucapkannya: “It ain’t about how hard you hit, it is about how hard you can get hit and keep moving forward.” Artinya dalam bertarung bukan soal seberapa keras Anda memukul atau berusaha. Tapi yang penting adalah seberapa keras Anda bisa menerima pukulan atau gagal, dan mencoba bangkit lagi dan maju terus. Itu yang penting.

    Maka mulai sekarang tekad itu harus Anda tanamkan. Anda mesti keluar dari comfort zone dan ambil resiko. Yang lebih penting lagi, mau melakukannya sekarang. Seperti semboyan Nike: just do it. Jangan menunggu nanti. Ingat, waktu terbatas. Waktu itu aset terbesar. Jika sudah berjalan dia tak mungkin kembali, dan kita tidak tahu sampai kapan kita hidup. Jadi, tunggu apa lagi?

    Share this post
    • Print this article!
    • Facebook
    • Twitter

19 Responses to “Menjadi Wirausaha Muda Dengan Filosofi Rocky”

  1. RSigit says:

    setuju, jadi pengusaha itu solusi! … tapi untuk sekolah kejuruan sepertinya diarahkan jadi pekerja, bukan pengusaha?

  2. bagus, berdagang meniru nabi. berdagang di atas prinsip kejujuran.. menjual sesuatu yg halal dijual, dan membeli sesuatu yg halal dibeli..

  3. Reni K. Kinasih says:

    Pak Anin,
    Berhubung tulisan Bapak itu bagus dan mudah dicerna, bagaimana kalau salah satu upaya untuk meningkatkan jumlah pengusaha adalah ‘memanas-manasi’ anak muda kita dengan (lebih banyak) tulisan Bapak mengenai wirausaha.
    Kalau Bapak yang ‘memanas-manasi’, kompornya pasti cepat nyala karena; (1) Tulisannya oke, (2) Bapak kan pengusaha oke yang punya banyak pengalaman oke, pasti lebih mengena.

    Mari, nyalakan semangatnya, ciptakan pengusahanya!

  4. Andika Prajana says:

    Pak Anin,
    Ketika kita disuruh belajar dgn yang terbaik,kita memiliki orang yang terbaik, saya rasa anda salah satunya..
    Kata-kata “It ain’t about how hard you hit, it is about how hard you can get hit and keep moving forward” menginspirasikan orang Indonesia untuk kuat terhadap berbagai masalah maupun musibah.

    “Diwaktu kecil-pun disaat kita jatuh ketika belajar berjalan,orang tua selalu bilang =Ayo anakku berdiri lagi!!kamu sudah mulai besar= Mereka mengajarkan kita bangkit dan tidak mengajarkan utk menangis ketika jatuh..
    Mari jadi pengusaha!!!Keep fight and smiling!!

  5. paijo says:

    top… baru nyadar rocky mengatakan itu..waktu nonton filmnya cuma perhatiin tinjunya aja hehehe..
    nice post mas

  6. martina says:

    setuju mas..pengusaha itu seperti pentinju..tidak takut terpukul jatuh.. jika terpukul harus bangun lagi..kalau gak bangun ya KO ..selesai..

  7. Anitha Putri Pramestiady Putri says:

    Bagi-bagi ilmu adalah suatu amal jariyah yg sangat bermanfaat buat anda dan orang lain….sukses buatt kanda anindya bakrie.

  8. Andri Budiman says:

    Bang anin kalo aku dilahirkan seperti abang pasti aku sukses… Dijamin bang… Tapi kondisinya saya lahir sebagai pekerja tangguh yang harus menghidupi keluarga… Hanya usaha dan berdoa semoga ALLAH, tetap memberikan kami yang terbaik…. Bekerja lebih dari 10 tahun sebagai karyawan tetap saya Syukuri Nikmatnya, hanya berusaha dan berharap bisa menjadi wirausaha seperti “Bakrie Group” sukses selalu untuk anda….

  9. Pengangguran says:

    buat makan aja susah, usaha tak ada modal.. juragan sih enak, dana tak terbatas.

    • gumira wisnu says:

      maaf ikut nimbrung. ikutan gatel soalnya :)
      halo kawan pengangguran, namanya juga “usaha”, artinya yang penting gerak!

      ga ada modal?

      bisa diatur! saya pernah memiliki pemikiran:
      ‘tukang parkir, pak ogah, itu usaha 0 rupiah loh… Toh, halal juga kan… Nah, kalo uda mulai ada penghasilan (cakepnya) mereka berpikir untuk pengembangan, contoh: beli priwitan, rompi, bikin tiket, dll. انش الله bisa berkembang tuh “usahanya”‘
      kuncinya: mulai bertindak, terus berfikir dan bergerak, kembangkan!

      moga postingan ini bermanafaat :)

      salam,

      gumirawisnu
      http://sususapikakapovi.blogspot.com
      http://kedaikakapovi.blogspot.com

  10. DH.ismail says:

    Great posting bung Anin. I like itu. Saya suka elaborasinya yang smart dan komprehensif ini. Kewirausahaan terbukti menjadi solusi kemiskinan dan sekaligus pengungkit kebangkitan sebuah keluarga dan suatu bangsa. M. Yunus sdh membuktikan itu. Negara2 maju sdh membuktikan itu.
    Namun, tiga unsur yang dinyatakan oleh Thomas L Harrison yakni: cara berpikir, genetika dan lingkungan kondusif yang pro bisnis masih jadi kendala terbesar berusaha dinegeri ini. So, what?
    Usul kami sinergi dunia usaha, dan assosiasi usaha tampaknya harus dipadu padankan untuk membangun situasi kondusif tersebut. Hemat Kami kepengurusan KADIN mendatang bisa menerjemahkan visi ini.

    Jika kita serius menebar virus wirausaha sebagai titik balik kebangkitan bangsa, berbagai stimulus perlu ditelorkan. KADIN harus menjadi leadhing sektor untuk itu. So kepengurusan KADIN harus akomodatif terhadap pelaku usaha di strata self bisnis, UKM, hingga pengusaha besar dan jenis bisnis strategis ( blogger ) hingga representasi daerah-daerah yang masih rendah pertumbuhan wirausaha nya.
    Last but not least edukasi thd stakeholder dunia suaha seperti: pemerintah pro bisnis, kaum agamawan pro bisnis, kampus pro bisnis juga patut ditempuh.
    Why not CSR digunakan untuk promosi mindset Wirausaha? Bukankah selama ini mindset warga kita soal wirausaha masih negatif? Bukankah visi sebagian tenaga kerja kita juga belum memahami mindset dan visi seorang enterpreneurs? ha,,ha,, Luar biasa,,tema yang menarik. Salam hangat dan salam sukses selalu bung Anin. May ALlah bless Us.

  11. watongbest says:

    …aku juga wiraswasta,pernah punya karyawan walau cuma satu,…bisnis banyak yang niru,..modal pas pasan, akhirnya boro2 punya karyawan umtuk bertahan tetap usaha aja susah…!!…..kemana lagi aku dapatkan modal ya?….semua peminjam modal hanya bunga nya saja yang besar, gak mao tau usaha lg sepi kaya gini…!!!….andai saya seperti anda saya juga mungkin bisa jadi pengusaha yang berhasil pak anin…!!!…

  12. Iwan S says:

    Kata siapa generasi ke-3 biasanya disebut generasi “merobohkan” ? Mitos itu mah…yang mentukan sukses/tidak sukses adalah diri kita sendiri. Pengusaha tentu lebih bergengsi dong dari Pegawai Negri dan sekelas…bagaimanapun hidup sebagai seorang pengusaha kecil lebih baik daripada seorang Presdir ataupun VP (status kerja)? Percaya ?

  13. Vachry says:

    Kejurusan as in course semacam Entrepreneurship? Bukannya sepertinya sudah ada ya?

  14. noerqiu qiu says:

    yeah, jadi pengusaha seperti filosofi rocky, sangat inspiratif, saya juga merintis usaha

  15. erwin says:

    mantap bang.. ane pikir bang anindya jadi pengusaha karena tetesan ortu saja tp kerja keras dan kemandiriannya patut dijadikan apresiasi bagi kalangan muda sprti saya. saya yakin semua pasti bisa dengan kerja keras dan doa. makasih bisa berbagi..

  16. iya bener. aku juga bete. kenapa mindset orang tua jaman dahulu sesudah baby boomer selalu menekan anaknya untuk menjadi pegawai dan aku jg merasakan. kita harus tuli, jagan dengeri apa kata orang. jd pengusaha itu ibadah, bekerja juga ibadah. hanya saja ortu jaman skrg linear bgt, sumpah jadi bete banget. soalnya aku pnya teman2 mindsetnya aneh, yg jd pengusaha cm aku seorang, hahahaahha, ya sudahlah, itu jalan mekera. jalan terbaik yg saya lakukan adalah tetep jd pengusaha, saya teringat sm om bob sadino, kata nya: kesuksesan itu adalah hanya tumpukan gunung kegagalan beribu ribu kegagalan, nangis darah, jatoh bangkit dll,,keep moving forwad.
    cita cita aku dari dulu emg ingin membuka lapangan opekerjaan, mendirikan sekolah gratis di desa desa yg tertinggal.

    ica the founder ONYKU

  17. harry says:

    Saya pernah nyoba nambang emas ngikuti saran temen2ku yg “gila” di gunung salak, nggak untung, malah bangkrut.
    Tiga bulan lalu dapat tawaran lagi dari Pak Bambang (mantan anggota DPRD Tk.1 dari partai golkar), skalanya lebih gede, modal jauh lebih gede, lebih serem nie.
    Saya ga bingung soal modal, walaupun sampai segunung, asalkan hasil surveynya benar.
    Tapi masih bingung soal manajerialnya. Mau bantu mas??
    Sbnrnya niat ini udah ku tulis di blog yg buat lomba.
    Modalnya kan skali masuk Ind jumlahnya sebukit, kalo bisa sinergi dgn MLJ dll kan risikonya ga terlalu tinggi.

  18. Santi says:

    Anin, it’s interesting to know how an entrepreneurship seen from your point of view. I think kita punya cara untuk mengenali dan menjalani kewirausahaan sesuai dengan karakter dan kepribadian kita masing-masing. Buat saya entrepreneurship atau kewirausahaan mulai saya jalani dengan serius ketika orang tua saya menjodohkan saya di tahun 1995, diusia saya yang ke-25, dengan seorang pengusaha; rekan bisnis, kawan baik ortu saya dan juga friends of family. Walaupun akhirnya pernikahan kami berakhir dengan perceraian ditahun 2011, namun menikahi seorang pengusaha menjadi sebuah proses pembelajaran dimana saya belajar banyak tentang kewirausahaan. I think you know my ex hubby, Rahmat Gobel. He is my mentor, my business guru. Well, if your challenge is as the 3rd generation, mine is how to be an entrepreneur as good as my ex hubby.

    Your Rocky filosofi, Rocks….!!! Thanks for sharing your story, its a good story indeed.. have a great Ramadhan, Anin dan salam kenal juga yaaa… Eventhough I have to introduce myself as Rahmat Gobel’s ex wife… heheheh… (same to you with your Bakrie’s..)

Leave a Reply

Spam Protection by WP-SpamFree