SEARCH :
  • posted by Anindya Jan 23rd, 2019

    Akhir pekan lalu (Sabtu, 19 Januari 2019), ada acara yang cukup menarik yaitu Indonesia Millennial Summit. Acara yang pesertanya adalah kaum millennial ini diadakan oleh IDN Times yang menghadirkan para pembicara dari berbagai kalangan, mulai dari wapres, politisi, pengusaha, entertainer, sampai atlet.

    Saya sendiri diundang menjadi salah satu pembicara di acara itu, sebagai CEO VIVA, untuk membahas mengenai “The Future of Media”. Selain saya, ada pembicara lain yaitu Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara, dan CEO IDN Times Winston Utomo.

    Di forum itu saya membuka paparan saya dengan mengungkapkan bahwa bisnis media di masa depan itu di satu sisi sangat menjanjikan, tetapi di sisi lain sangat suram.

    Bisnis media suram terkait dengan mediumnya. Jika media bertahan dengan medium lama maka akan segera tumbang digilas oleh new media dan media sosial.

    Apalagi saat ini raksasa luar negeri seperti Facebook, Google, Netflix, dan lain sebagainya, masuk dan mendominasi. Dari China juga ada Baidu, Alibaba, Tencent, dan kawan-kawan yang juga bermain.

    Para raksasa ini mengepung kita. Tetapi masih ada celah yang bisa kita mainkan.

    Celahnya di mana? Celahnya adalah ada di kontennya. Jadi kita harus bermain di konten dan bukan di mediumnya. Tentu saja konten di sini bukan konten asal konten, melainkan konten yang bagus, disukai (berdasarkan data), dan memiliki intelektual properti.

    Salah satu contohnya adalah ketika kami melihat data bahwa pembaca komik nomor satu di Asia itu Indonesia (Manga dan Webtoon Line juga nomor satu), maka kami kemudian main di situ. Melalui Bumi Langit yang kami suport, kami menghidupkan kembali karakter superhero tahun 70-80an seperti Gundala untuk hadir lagi dan dipoles agar lebih menarik. Bahkan sebentar lagi Gundala ini akan hadir filmnya.

    Kita akan buat universe sendirj seperti Marvel dan DC, bahkan kita sudah buat licencingnya yang sudah jalan saat Asian Games. Jadi nanti anak-anak kita tidak hanya nonton konten dan main games dengan Marvel atau DC, tetapi juga dengan jagoan dari Indonesia yang tidak kalah keren.

    Jadi konten hang bagus, termasuk dari barang lama, kalau dikemas bagus akan sulit didistrupsi oleh pemain asing.

    Di tvOne kita juga melakukan hal yang sama. Data menunjukkan bahwa penonton Debat Calon Presiden dan Wakil Presiden di tvOne ditonton lebih banyak dibanding televisi berita yang lain. Debatnya memang sama, namun cara presentasi kita beda, maka hasilnya pun beda.

    Kami mengemasnya seolah ini promo drama. Lalu ada dramatisasi dan sajian lain yang beda dengan yang lain. Tvone memang beda, dan pemirsa terbukti suka.

    Contoh lain di tvOne mengenai sesuatu yang bisa saja, namun dilakukan berbeda dan disukai oleh pemirsa adalah One Pride. Awalnya kita melihat bahwa beladiri ini cukup besar penggemarnya di Indonesia. Orang Indonesia juga suka berantem di jalanan.

    Maka kita berfikir mengapa ini tidak dibuat jadi kompetisi Mix Martial Art (MMA) seperti UFC, tapi dengan memaketkan berbeda. Kita membuatnya menjadi lebih entertaining dalam bentuk spectator sport.

    Walhasil, dari acara ini selain menghasilkan tontonan yang ditonton dan disukai banyak orang, kami juga menghasilkan banyak fighter baru di berbagai kelas. Bahkan fighter perempuan, Linda Darrow masuk ke UFC, dan banyak fighter ini jadi punya income dan kehidupan lebih. Dojo atau gym tempat fighter berlatih pun banyak yang jadi ramai.

    Hal yang serupa tapi tak sama, selain beladiri, kami juga melihat banyak masyarakat yang suka balapan liar dengan motor bebek underbone. Maka oleh tvOne kegiatan negatif ini diarahkan menjadi positif dengan kompetisi profesional One Prix. Acara ini akan ditayangkan LIVE dan diharapkan bisa mengurangi balapan liar.

    Dari sana kita tidak hanya mendapat konten yang bagus dan diminati. Namun juga bisa ikut memberikan dampak positif bagi banyak orang.

    Di ANTV juga sama. Saat kita membeli film India dan laku serta menguntungkan, kita tidak hanya berhenti di situ saja. Namun kita kembangkan ide kreatif lain. Kita bawa pemainnya ke sini, kita kolaborasikan dengan pemain lokal. Kita buah roadshow.

    Kita juga ajak pemain Indonesia dan pemain India buat film di India. Bahkan film itu juga banyak ditonton di India sana.

    Jadi kuncinya di konten. Karena medium tinggal menunggu waktu. Medium ini ibarat badan yang sudah akan mati, tapi konten ini ibarat otak atau pikirannya yang bisa kita selamatkan.

    Misalnya saat ini medium tvOne adalah televisi free to air, mungkin suatu saat nanti mediumnya bukan itu.

    Saya membayangkan, di masa depan di pagi hari saat akan gosok gigi kita berkata:

    “Hai Siri ada berita apa pagi ini?”

    Lalu di kaca yang bisa meminculkan gambar juga, muncul tayangan berita tvOne.

    Jadi tvOne saat itu mungkin mediumnya bukan televisi konvensional free to air lagi. Bisa apa saja. Tapi tvOnenya tetap ada karena dipercaya pemirsa atau masyarakat. Konten yang baik dan brand terpercaya itulah yang akan membuat tvOne bertahan.

    Kami akan terus berinovasi dan mengikuti zaman dan memahami audience. Sebab dengan tahu perkembangan zaman dan memahami audience dengan baik makan kita bisa melayani yang baik.

    Selain itu, kita juga harus terbuka untuk berkolaborasi. Di era saat ini, tidak ada yang berhasil sendiri. Start up yang berhasi menjadi unicorn pun juga merupakan hasil kolaborasi. Di media pun juga sama seperti itu.

    Lebih dari itu, ke depan yang kita pikirkan bukan hanya bagaimana kita bertahan, namun juga bagaimana kita juga memberdayakan. Contoh program tvOne di atas adalah perwujudan itu. Itu juga merupakan tujuan VIVA dari awal yang tersemat di singkatan namanya: VIVA = Victory for Indonesia, Victory for All. Jadi kita tak hanya maju tapi memberdayakan, memajukan masyarakat, dan Bangsa Indonesia.

    Semoga yang saya sampaikan bermanfaat untuk para anak muda, para millennial yang hadir di acara itu, juga bagi siapa saja yang membaca tulisan saya ini. Sampai jumpa di tulisan saya berikutnya.

Leave a Reply