SEARCH :
  • posted by Anindya May 9th, 2018

    Sebagai seorang pengusaha, apalagi di dalam grup besar dan banyak perusahaan terbuka, menghadiri Rapat Umum Pemegang Sahan (RUPS) tentu bukan hal yang istimewa. Namun RUPS yang saya hadiri hari Jumat (27 April 2018) lalu, bagi saya bukan sekadar RUPS dan ada kesan tersendiri bagi saya.

    RUPS itu adalah RUPS PT Bakrie & Brothers (BNBR). Sebuah perusahaan yang didirikan kakek saya 76 tahun silam. Di RUPS itu, para pemegang saham memberi amanah saya dan adik saya Ardi Bakrie untuk masuk dalam jajaran kepemimpinan perusahaan tersebut.

    Saya mendapat amanah sebagai Komisaris Utama BNBR, sementara Ardi, duduk sebagai Wakil Direktur Utama. Direktur Utamanya masih dijabat Bobby Gafur Umar.

    Ini bagi kami bukan amanah yang biasa. Kami harus bersyukur, sebab dengan masuknya kami, berarti estafet kepemimpinan di Kelompok Usaha Bakrie sudah sampai di generasi ke tiga. Kami menggantikan ayah saya sebagai generasi ke dua yang sebelumnya juga memimpin perusahaan ini.

    Bagi keluarga Bakrie, ini berarti kami bisa menjaga perusahaan keluarga ini sampai tiga generasi. Tentu bukan sesuatu yang mudah, sebab banyak perusahaan keluarga yang cuma bisa bertahan paling lama sampai dua generasi saja.

    Namun di sisi lain kami juga mendapat tantangan yang tidak mudah. Karena kami tidak hanya melanjutkan, tetapi juga harus mempertahankan dan memajukan atau mengembangkan. Mengingat BNBR ini adalah perusahaan yang punya sejarah yang panjang dan merupakan cikal bakal Kelompok Usaha Bakrie.

    Sudah sejak 80an Bakrie menjadi perusahaan keluarga yang profesional dan modern. Waktu itu juga menjadi salah satu perusahaan keluarga yang go publik atau terbuka, dengan manajemen profesional.

    BNBR ini perusahaan yang sudah teruji secara daya tahan. Pernah mengalami naik dan turun, kalau dalam bahasa ayah saya Aburizal Bakrie, disebut sebagai roller coaster. Bahkan saat krisis dan terpuruk, kami pernah kehilangan mayoritas kepemilikan saham. Namun kemudian bisa bangkit dan dimiliki kembali. Bahkan soal tahan ujinya Bakrie ini banyak orang atau pengamat menjuluki Bakrie “punya sembilan nyawa”.

    Fundamen yang baik telah dibuat oleh generasi sebelumnya, sebagai pemegang estafet dan penerus, kami harus memikirkan bagaimana meningkatkan daya saing dan membawa perusahaan ini lebih maju lagi. Apalagi saat ini zaman atau eranya sudah berubah.

    Saat ini kita sudah memasuki era revolusi Industri ke-4 atau Industri 4.0. Zaman digital, serba terkoneksi, dan berubah dengan cepat. (untuk soal Revolusi Industri ke-4 bisa di baca di tulisan saya yang ini )

    Sementara BNBR sendiri yang didirikan sebelum Indonesia merdeka mungkin masih menerapkan pola kerja ala era 2.0 atau 3.0. Bagaimana mengubah ini dan melaju mengikuti perkembangan zaman, ini yang perlu kami pikirkan. Ini adalah pekerjaan rumah saya bersama para direksi.

    Kalau kita lihat upaya ke arah sana sudah mulai dirintis. Misalnya beberapa waktu lalu BNBR dan Institut Teknologi Bandung (ITB) menandatangani MoU kerjasama menyongsong era transportasi berbasis listrik. Misalnya akan membuat baterai dan lain sebagainya. Sebab kami percaya, mobil listrik seperti yang dibuat Tesla, akan menjadi transportasi kebanyakan orang di masa depan.

    Itu baru satu hal, sementara kalau dilihat portfolio BNBR ini cukup menarik dan lengkap. Ada otomotif, metal, infrastruktur, mining, plantation, investasi di perusahaan publik, dan lain sebagainya. Karena itu kami yakin banyak hal yang bisa dilakukan dengan mengikuti perkembangan zaman yang makin canggih ke depan.

    Selain itu yang menarik juga di BNBR ini ada hybrid antara kepemilikan dan investasi. Karena itu saya juga berfikir bukan hanya bagaimana cara membuat perusahaan lebih baik saja, tetapi yang penting adalah stability dan sustainability.

    Sekarang BNBR sudah 76 tahun, maka kami berharap bisa mencapai usia 100 tahun dan bahkan lebih lama lagi. Tentunya ini tergantung bagaimana kita terus bekerja, berkreasi atau berinovasi agar Bakrie bangkit kembali dan lebih maju lagi.

    Salah satu kuncinya ke depan juga bagaimana meningkatkan kepercayaan pada BNBR kembali. Kepercayaan restrukturisasi supaya temen-teman kreditur merasa jelas, juga kepercayaan menigkatkan operasional sehingga memberikan nilai tambah bagi pemegang saham.

    Alhamdulillah tahun ini perusahaan akan melakukan restrukturisasi utang sebesar Rp9,5 triliun. Sebelumnya pada 2017, perseroan sudah merampungkan restrukturisasi senilai Rp1 triliun dan 2016 sebesar Rp988 miliar. Ini sebuah langkah baik mengurangi beban agar kami bisa meluncur lebih cepat lagi.

    Tak lupa kepada para pendahulu kami di BNBR kami menghaturkan banyak terima kasih atas kerja keras dan dedikasi selama ini. Misalnya kepada mantan Komisaris Pak Irwan Sjarkawi dan Pak Nugroho yang sudah berbakti 19 dan 45 tahun di BNBR. Kami akan bekerja keras melanjutkan perjuangannya dan menjadikan Bakrie bangkit dan lebih baik lagi.

    Terakhir, mewakili generasi ke-3 Bakrie lainnya, saya berserah diri pada Allah SWT, dan dengan niat tulus, memohon doanya agar bisa menjalankan amanah dengan baik. Semoga kami bisa menjaga dan memajukan perusahaan ini untuk lebih baik lagi ke depan, dan sejalan dengan apa yang dicita-citakan kakek kami Alm. H. Achmad Bakrie; yaitu membangun perusahaan yang maju bersama dan untuk negeri tercinta Indonesia.

Leave a Reply