SEARCH :
  • posted by Anindya May 8th, 2016

    13087494_10154065868855138_2031642999808693449_nAkhir pekan lalu (Sabtu, 23 April 2016) saya mengikuti acara Sungailiat Triathlon 2016. Ini adalah acara triathlon pertama saya di Pulau Bangka, tapi acara triathlon keempat yang saya ikuti. Karena sebelumnya saya sudah ikut acara serupa di Bintan.

    Sungailiat Triathlon adalah acara tahunan yang digelar di Sungailiat, Kabupaten Bangka, Propinsi Bangka Belitung. Penyelenggaranya adalah pemda setempat didukung oleh Kementrian Pariwisata. Kebetulan acara triathlon tahun ini juga bertepatan dengan HUT Sungailiat yang ke-250.

    Olahraga yang memadukan antara renang, bersepeda, dan lari marathon ini diikuti sekitar 687 orang. Mereka datang 19 negara. Negara tersebut antara lain; Algeria, Australiia, Austria, Kanada, Belanda, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Romania, Singapore, Spanyol, Swedia, Inggris, Amerika Serikat, serta tentu saja tuan rumah Indonesia.

    Ada tiga kategori yang dilombakan yaitu: sprint, standard, dan long distance. Sprint dengan jarak tempuh renang 0,75 km, sepeda 20 km dan lari 5 km. Standart dengan jarak tempuh renang sejauh 1,5 km, sepeda 40 km, dan lari 10 km. Long dengan jarak tempuh renang sejauh 1,9 km, sepeda 90 km dan lari 10 km. Saya sendiri mengikuti yang standard.

    Untuk rutenya sendiri, melewati objek wisata unggulan di Bangka. Antara lain; Pantai Teluk Uber, Pantai Tanjung Pesona, Pantai Tikus, Puri Tri Agung, Agro Wisata Rebo, Pantai Rebo, Pantai Mang Kalok, Pantai Air Anyir, dan Pantai Temberan. Semua indah-indah.

    Aspek pariwisata memang ditonjolkan di sini, karena acara ini memang sekaligus untuk mempromosikan dan meningkatkan angka kunjungan wisatawan di Indonesia. Olahraga yang memadukan renang, bersepeda, dan lari marathon ini diharapkan menyumbang kesuksesan program pariwisata nasional: Pesona Indonesia dan Wonderful Indonesia.

    Apalagi tahun ini pemerintah mentargetkan 12 juta wisatawan mancanegara (wisman) dan 260 juta wisatawan nusantara (wisnus) berkunjung ke obyek wisata Indonesia. Dari target itu, diharapkan ada Rp172 triliun uang yang dibelanjakan oleh wisman dan Rp223 triliun uang yang dibelanjakan wisnus.

    Untuk merealisasikan hal itu, pemerintah bahkan telah menyiapkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata yang juga dikenal sebagai “10 Bali baru”. Ini adalah kawasan wisata yang akan didorong agar bisa semenarik Bali. Kawasan tersebut antara lain: Kawasan Tanjung Kelayang, Belitung, Babel, Danau Toba, Sumut, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Tanjung Lesung, Banten, Borobudur, Jateng, Bromo-Tengger-Semeru, Jatim, Mandalika, NTB, Wakatobi, Sulteng, Pulau Morotai, Malut, dan Labuan Bajo, NTT.

    Pariwisata Indonesia memang harus terus dibenahi dan ditingkatkan. Jika melihat data indeks daya saing pariwisata 2015 yang dilansir World Economic Forum (WEF), Indonesia ada di peringkat 50 dari 141 negara. Meskipun peringkat ini naik dari peringkat 70 (di tahun 2013), namun masih kalah dengan negara tetangga. Lihat saja Thailand, ada di peringkat 35, Malaysia, di peringkat 25, dan Singapura di peringkat 11.

    Padahal secara sumber daya alam, seharusnya Indonesia lebih baik dibanding para negara tetangga tersebut. Maka ini menunjukkan ada yang memang harus diperbaiki dari pariwisata kita.

    Pariwisata ini penting, sebab dengan kondisi seperti saat ini saja (data 2015), sektor ini bisa memberikan kontribusi terhadap PDB Nasional sebesar empat persen, dan menghasilkan devisa sekitar Rp 155 triliun. Lapangan kerja yang diciptakan juga relatif besar, yaitu sebanyak 11,3 juta. Tahun 2016 ini pemerintah mentergetkan kontribusi pariwisata terhadap perekonomian (PDB) nasional meningkat menjadi lima persen. Jumlah lapangan kerja yang diciptakan menjadi 11,7 juta tenaga kerja.

    Oleh karena itu, menurut hemat saya, acara seperti Sungailiat Triathlon ini penting untuk mencapai terget tersebut. Sport tourism atau wisata olahraga memiliki peluang yang besar dan bisa dimanfaatkan Indonesia. Malaysia, yang peringkatnya di atas Indonesia, juga memanfaatkan peluang ini.

    Pariwisata Malaysia terbantu sekali dengan wisata olahraga, yang diakui menjadi kunci keberhasilan pariwisata negeri jiran tersebut. Berkat wisata olahraga, pada 2010 mereka berhasil mendulang RM 55 trilium dengan 26,4juta kunjungan. Sport tourism juga tercatat merupakan salah sektor yang paling cepat pertumbuhannya di travel industry global. Nilainya sekitar USD 7,68 triliun.

    Sekali lagi, ini peluang yang harus dimanfaatkan Indonesia. Dari data Sungailiat Triathlon saja keampuhan wisata olahraga ini sudah terbukti. Acara ini terus menunjukkan tren peningkatan kunjungan ke Bangka. Saat digelar tahun 2014, ada 400 wisnus dan 75 wisman yang datang, tahun berikutnya 2015, ada 700 wisnus dan 180 wisman, dan tahun 2016 ini, diperkirakan Menpar Arief Yahya, ada 1200 wisnus dan 400 wisman yang datang hanya untuk acara ini. Itu hanya di Bangka saja, belum di daerah lain.

    Wisata olahraga ini juga bisa dicontoh di daerah lain. Bisa saja dibuat di 10 Bali baru yang disiapkan pemerintah. Misalnya beragam olahraga air digelar di kawasan Danau Toba, Kepulauan Seribu, Labuan Bajo, dll. Juga banyak jenis olahraga lain yang bisa dikemas jadi wisata olahraga.

    Sport tourism juga bisa tidak hanya berguna bagi wisata saja, melainkan juga untuk aspek olahraga dan kesehatan. Di sini program pemerintah di Kementrian Pemuda dan Olahraga, dan Kementrian Kesehatan misalnya juga bisa disinergikan.

    Berwisata sambil berolahraga tentu adalah sebuah pengalaman yang menarik, dan saya sendiri sudah membuktikannya. Bahkan di acara seperti ini, jejaring pertemanan juga bisa terbangun. Bagi saya orang bisnis, ini tentu hal yang positif.

    Hal penting lainnya tentu saja ini akan meningkatkan perekonomian daerah. Melalui sektor pariwisata, yang didorong oleh wisata olahraga, banyak lapangan kerja akan tercipta, baik yang permanen maupun musiman. Dampaknya tentu saja kesejahteraan masyarakat.

    Di Sungailiat Triathlon misalnya, peserta akan datang sekitar tiga hari sebelum acara. Mereka akan latihan sambil berwisata, belanja, kuliner, dan lain sebagainya. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka juga menyiapkan pertunjukan istimewa di sela acara. Ada acara Nganggung atau Sepintu Sedulang atau makan bersama dilakukan masyarakat Bangka, ada bazaar, festival kuliner khas Bangka, dan lain-lain.

    Dari pengalaman itu saya yakin, jika peluang wisata olahraga ini dimanfaatkan dengan baik, maka pariwisata Indonesia akan maju. Target pariwisata 2019 yaitu ada di peringkat 30 dunia, akan bisa dicapai. Bahkan mungkin bisa lebih baik lagi, menggeser Singapura yang sekarang ada di peringkat 11 dunia. Bukan hal yang mustahil. Karena tidak ada yang mustahil bagi yang optimis dan mau bekerja keras.

Leave a Reply