SEARCH :
  • posted by Anindya Jan 30th, 2015

    16159715260_44bfcaed70_oBeberapa waktu lalu (20-24 Januari 2015) saya kembali menghadiri World Economic Forum (WEF). WEF adalah yayasan atau organisasi non-profit yang terdiri dari pelaku bisnis, cendekiawan, politikus, dan pemimpin masyarakat.

    WEF tidak hanya berkecimpung di bidang ekonomi, namun juga bergelut di masalah penting lainnya di dunia seperti lingkungan, kesehatan, dan pangan. Forum ini selalu rutin menggelar pertemuan tahunan di Davos. Saya sendiri selalu menghadiri pertemuan ini setiap tahunnya.

    Banyak hal yang menarik di WEF tahun ini. Namun satu hal yang paling menarik dan berkesan bagi saya adalah kehadiran seorang idola dan inspirator saya. Bahkan saya sempat berbincang singkat dan berfoto bersama. Dia adalah Jack Ma.

    Siapa tak kenal Jack Ma? Dia adalah orang terkaya di China berhasil membangun raksasa bisnis dari internet. Bahkan perusahaan e-commercenya: Alibaba, melambung di pasar saham dengan nilai sekitar USD 25 miliar, dan tercatat sebagai IPO terbesar di dunia.

    Jack Ma, yang memiliki nama asli Ma Yun ini, kembali ke Davos setelah tujuh tahun absen. Dalam sesi wawancara di Davos dia mengatakan banyak mendapatkan ide dari acara di Davos yang membicarakan banyak isu ini. Namun saat krisis ekonomi global di tahun 2008 menerpa, dia memutuskan untuk kembali bekerja dan mengurus bisnis. Setelah bisnisnya menjadi besar dan sukses, dia baru kembali ke Davos untuk berbagi cerita dan pengalamannya.

    Dalam kesempatan itu Jack Ma mengungkapkan bahwa saat ini Alibaba, yang sering disebut orang sebagai pesaing eBay and Amazon dari China, telah jadi salah satu raksasa e-commerce dunia. Bayangkan saja, setiap harinya ada sekitar 100 juta visitors, dan jutaan transaksi online dengan nilai yang fantastis.

    Dia sendiri sempat tidak percaya dengan apa yang telah dicapai perusahaannya itu. Sebab perusahaan yang didirikan tahun 1999 ini dulunya hanya memiliki 15 karyawan saja. Apalagi saat itu semua orang memandang sebelah mata. Tapi justru karena diremahkan orang itu, dia membulatkan tekad untuk membuat Alibaba menjadi lebih baik dari apa yang orang bilang. Dia berhasil, dan Alibaba kini menjadi perusahaan besar dengan 30 ribu lebih karyawan.

    Seperti pengusaha sukses lainnya, perjalanan Jack Ma membangun bisnis juga penuh liku dan tantangan. Kegagalan dan penolakan adalah “menu” yang selalu menemani perjalanan hidupnya. Dia sering gagal tes masuk sekolah dan universitas. Bahkan Harvard menolaknya 10 kali. Yang lebih menyedihkan lagi, saat mencoba melamar kerja di KFC, dia juga ditolak. Bahkan menjadi satu-satunya orang yang ditolak dari 24 orang yang melamar.

    Namun bagi dia, kegalalan dan penolakan itu adalah “vitamin” yang bisa digunakannya untuk meraih kesuksesan. Jack Ma juga tidak pernah menyerah pada keterbatasan. Saat dia ingin belajar bahasa Inggris, dan tidak ada buku, dia pergi ke hotel dan menawarkan jasa guide gratis untuk para turis. Dengan cara inilah dia belajar bahasa Inggris dan ini dilakukannya selama sembilan tahun. Dari sana pula lah dia mendapat nama Jack, yang diberikan seorang turis yang ayah dan suaminya juga bernama Jack.

    936658_10152979691860138_3260373789614881810_nDari para turis pula lah, pikiran Jack Ma terbuka. Banyak hal didapatnya dari para turis tersebut yang ternyata tidak diajarkan di sekolah atau dari orang tuanya. Ini yang membuat dia juga terbua untuk mempelajari hal-hal baru, termasuk internet.

    Pengalaman pertama interaksi Jack Ma dengan internet adalah saat dia berkesempatan datang ke Amerika di tahun 1995. Saat di tempat temannya dia bertanya apa itu internet. Lalu temannya menyuruh dia mencari (search) sesuatu di sana. Dia kemudian memasukkan kata kunci bir (beer), hasilnya, adalah bir dari berbagai negara, namun tak ada satupun yang dari China. Lalu dia juga search kata China, namun tak menemukan hasil apapun. Dari sanalah Jack Ma berpikir untuk membuat sesuatu tentang China di internet.

    Lalu mengapa Jack Ma menggunakan nama Alibaba, bukan nama dari bahasa China? Ini karena dia berfikir bahwa internet adalah global, maka diperlukan nama global. Suatu waktu saat sedang makan di restoran dia tanya ke pelayan: anda tahu Alibaba? Pelayan itu bilang tahu, yaitu Ali Baba “Open Sesame”. Dia kemudian juga menanyakan pada puluhan orang di jalan soal Alibaba. Mereka mengatakan tahu, yaitu Ali Baba “Open Sesame” atau Alibaba and the Forty Thieves.

    Dia lalu menyimpulkan bahwa Alibaba sudah dikenal oleh banyak orang, karena itu bagus dijadikan nama perusahaan. Selain itu Alibaba juga diawali dengan huruf “A”, dan huruf “A” selalu di atas atau yang pertama. Itulah alasan mengapa Jack Ma memakai nama Alibaba. Setelah mendapat ide dia meminta temannya atau timnya untuk melakukan sekarang juga. Dia yang akan menanggung risikonya. Misalnya jika pemerintah tidak suka misalnya dan harus ada yang dipenjara, maka dia yang akan masuk penjara. Dia berani mengambil risiko. Ini adalah hal yang penting dalam bisnis.

    Selanjutnya, Jack Ma bekerja keras dan pantang menyerah. Meski di tahun-tahun awal keuntungannya nol, dia tetap yakin dan terus maju. Dia mengubah kebiasaan belanja orang yang face to face menjadi lewat online. Dia sadar bahwa dalam bisnis online kepercayaan atau trust adalah kunci. Karena itu dia menciptakan sistem yang bisa dipercaya. Akhirnya dengan sistem itu orang yang tidak saling kenal pun bisa bertransaksi kapan saja dan di manapun mereka berada.

    Banyak orang juga telah terbantu oleh Alibaba. Saat ini baik secara langsung maupun tidak langsung, Alibaba telah menciptakan 40 juta lapangan kerja di China. Beberapa yang terbantu bahkan sering berterima kasih kepada Jack Ma dengan cara unik. Misalnya saat dia makan di restoran dan akan membayar, ternyata sudah ada yang membayar tagihannya. Lalu ada catatan kecil dari yang membayar tadi bahwa dia salah satu pengguna platform Alibaba dan bisa menghasilkan banyak uang dari sana, karena itu sebagai bentuk terima kasihnya dia saat itu mentraktir Jack Ma.

    Inilah contoh sebuah bisnis yang baik. Sebuah bisnis yang tidak hanya menguntungkan diri atau kelompoknya saja tapi juga memberdayakan banyak orang untuk sukses bersama-sama. Terutama bisnis kecil atau UKM. Bahkan dia bercita-cita untuk membantu 10 juta bisnis kecil di luar China yang menjual produknya melalui internet dan melayani dua miliar konsumen. Kini, Alibaba juga sudah berdiri di Rusia dan Brazil.

    Yang menarik dari cerita Jack Ma di Davos adalah bahwa salah satu inspirasi kesuksesannya adalah Forrest Gump. Dia rupanya penggemar film yang dibintangi Tom Hanks ini. Dia bahkan mengatakan Forrest Gump bisa dijadikan teladan jika ingin sukses. Gump, kata Jack Ma, meski idiot tapi dia yakin dengan apa yang dilakukannya. Tak peduli orang suka atau tidak dengan apa yang dilakukan, Gump melakukan dengan sepenuh hati dan berhasil. Dia juga belajar dari Gump yang tidak pernah menyerah dalam hidup. Ini yang menjadikan Jack Ma pantang menyerah dalam menghadapi rintangan dan akhirnya menjadi salah satu orang tersukses di dunia.

    Dalam kesempatan itu, Jack Ma juga mengatakan dia sangat percaya dengan anak muda. Dia yakin apa yang belum bisa dilakukannya akan bisa dilakukan anak-anak muda yang mau belajar. Salah satu motivasinya untuk berhasil juga untuk menginspirasi anak muda lainnya untuk berhasil.

    “Jika kita bisa berhasil, maka 80 persen anak muda di China juga akan bisa berhasil” itu yang dikatakan Jack Ma pada timnya di awal dia membangun usaha.

    Itulah cerita Jack Ma di Davos. Seperti halnya dia, saya juga yakin bahwa anak muda Indonesia juga bisa sukses jika mengikuti apa yang dilakukan Jack Ma. Punya ide yang bagus, berani memulai usaha, kerja keras, dan pantang menyerah.

    Jack Ma mengajarkan pada kita semua bahwa siapapun bisa sukses. Bahkan dia pun tidak pernah menyangka bisa sukses. Maka jangan pernah pesimis, teruslah bekerja, dan yakin dengan apa yang kita lakukan. Sebab hidup ini seperti ungkapan di film Forrest Gump yang selalu diingat Jack Ma: “Life is like a box of chocolates, because you never know what you’re going to get”.

Leave a Reply