SEARCH :
  • posted by Anindya Jan 20th, 2012

    anb kadin semarangKamis (12/01)  saya diminta berbicara dalam sebuah seminar bisnis yang digelar oleh Kadin Jawa Tengah di Semarang. Topiknya : Menyongsong Prospek Bisnis 2012. Selain saya yang mewakili Kadin Indonesia, tampil  sebagai pembicara ekonom dari UGM Tony Prasetyantono dan Presdir Sritex Solo Iwan Setiawan Lukminto.

    Sebagai pengusaha, saya mengatakan secara umum  prospek ekonomi Indonesia tahun 2012 tetap menjajikan. Masih terbuka berbagai peluang, meski krisis global melanda negara-negara di kawasan Eropa dan Amerika Serikat. Walaupun tidak setinggi pertumbuhan ekonomi  2011 yang mencapai 6.5%, namun Kadin memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2012 berkisar 6.2-6.4%. Artinya tetap tumbuh pada kisaran angka 6%. Konsumsi domestik yang tinggi, mencapai 60-65% dari PDB menjadi jaring pengaman dan penopang utama dari perekonomian Indonesia.

    Angka ini tidak jauh berbeda dengan prediksi Bank Indonesia (BI) dan sejumlah lembaga keuangan dunia lainnya. Berdasarkan perkiraan BI, ekonomi Indonesia akan tumbuh 6.3%, ini sekaligus merupakan koreksi dari APBN yang menargetkan pertumbuhan sebesar 6.7%. Koreksi yang dilakukan oleh BI tak lepas dari pertumbuhan ekonomi global yang juga mengalami penurunan  dari semula 4% menjadi 3.8%. ADB memperkirakan 6.3%, Deutsche Bank 6.0%. Sementara Bank Dunia memperkirakan pada level optimis tumbuh antara 6-6.3%. Sementara level moderat di posisi 5.5-5.9%.

    Sebagai salahsatu negara emerging market, Indonesia dan beberapa negara di kawasan Asia–termasuk Asean yang tumbuh 5.6%– diharapkan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi dunia. Mari kita tengok Cina yang diperkirakan tumbuh 8-9%, India sekitar 7.5 %, Brazil 4.5%. Coba bandingkan dengan negara-negara di Zona Euro (27 negara) yang tumbuh hanya 0.5%, Amerika Serikat 2.3% dan Jepang hanya 2.2%. Perekonomian Eropa diperkirakan akan kian memburuk seiring penurunan peringkat utang sejumlah negara termasuk Perancis oleh Standard and Poor.

    Ekspor menurun

    Melambatnya pertumbuhan ekonomi negara-negara maju seperti Eropa, AS dan Jepang dipastikan akan mempengaruhi kinerja ekonomi kita, utamanya di sektor impor. Seperti diketahui negara-negara tersebut merupakan mitra dagang terbesar dan menjadi tujuan utama ekspor Indonesia. Dengan begitu kita harus mulai mencari negara-negara alternatif tujuan ekspor.

    Cina dan India bersama negara-negara emerging market seperti Brazil dan Rusia (BRICH), jelas merupakan negara tujuan ekspor yang menarik. Sepanjang tahun 2011 sudah terlihat nilai ekspor non migas kita ke Cina dan India tumbuh sangat baik. Cina malah telah menjadi negara tujuan ekspor terbesar menggeser Jepang.  Negara-negara kawasan Timur Tengah juga merupakan pasar yang menjanjikan. Apalagi sebagai negara muslim terbesar di dunia, kita punya kedekatan emosional dengan kawasan ini.

    Jangan lupa pula yang harus kita tingkatkan adalah perdagangan intra Asean. Kawasan ini selain pertumbuhan ekonominya stabil, juga mempunyai jumlah penduduk yang cukup besar, yakni mencapai 600 juta jiwa atau hampir 10% dari total jumlah penduduk dunia. Di luar Singapura, kita belum menggarap secara serius pasar Asean. Yang terjadi sejak diberlakukannya Asean Trade in Goods Agreement (ATIGA), Januari 2010  – yang menggantikan perdagangan bebas Asean (Common Effective Preferencial Tariff Scheme for the ASEAN Free Trade Area –CEPT-AFTA– produk-produk makanan dan minuman olahan dari Thailand dan Malaysia membanjiri pasar domestik.  Belakangan produk makanan dan minuman Vietnam juga mulai ikut menyerbu.

    Melihat potensi alam dan keragaman hayati yang kita miliki, tidak seharusnya kita kalah dengan negara-negara ASEAN lainnya. Dalam berbagai kesempatan saya selalu menyampaikan bahwa kita harus mengubah ekspor berupa bahan mentah menjadi produk olahan yang mempunyaivalue added. Disamping akan membuka lapangan kerja baru, juga bisa meningkatkan nilai jualnya. Sungguh ironis mendapati bahan-bahan mentah yang kita ekspor, kemudian mereka olah dan kembali masuk ke Indonesia sebagai barang impor dengan harga yang berlipat.

    3 plus 3

    Dengan jumlah penduduk sebanyak 237.6 juta dan pendapatan USD 3200/tahun Indonesia merupakan pasar yang menggiurkan. Konsumsi domestik yang tinggi dan pada tahun 2012 diperkirakan akan tumbuh 9.1%  merupakan peluang yang harus dapat kita manfaatkan sebesar-besarnya. Jangan sampai pasar kita yang besar justru dimanfaatkan oleh negara-negara lain. Lantas sektor apa saja yang masih terbuka dan menjanjikan peluang menarik?

    Saya menyebutnya sebagai 3 plus 3, yaitu sandang, pangan, papan plus pendidikan, kesehatan dan hiburan. Sektor sandang, pangan dan papan merupakan kebutuhan primer. Setelah semua itu terpenuhi konsumen mulai melirik kebutuhan lain seperti pendidikan, kesehatan dan hiburan.

    Sektor sandang akan terus naik seiiring bertambahnya jumlah penduduk dan naiknya tingkat kesejahteraan. Baju bukan lagi sekedar penutup tubuh, namun juga gaya hidup, fesyen. Pasar tekstil Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada tahun 2011 tercatat sebesar Rp 95.5 trilyun dan pada tahun 2014 diproyeksikan mencapai Rp 130 trilyun. Sayangnya sekitar 60% pasar tekstil masih berasal dari impor dengan produk Cina yang mendominasi.

    Pangan merupakan sektor yang tak akan pernah kekurangan permintaan. Pangan merupakan kebutuhan paling utama. Sektor ini terdiri dari kebutuhan bahan pokok sampai makanan olahan. Indonesia memiliki sumber daya pangan yang luar biasa beragam.

    Masalah penyediaan papan juga merupakan sektor yang menggiurkan. Dengan komposisi penduduk yang didominasi kaum muda, maka kebutuhan akan perumahan, baik berupa landed house maupun apartemen akan sangat tinggi. Ini merupakan peluang, apalagi bila disertai tingkat suku bunga yang menarik.

    Setelah sandang, pangan dan papan terpenuhi, orang akan mulai melirik 3 kebutuhan lain, yakni pendidikan, kesehatan dan hiburan. Sektor pendidikan juga mempunyai prospek yang menarik. Berdasarkan sensus 2010 jumlah usia anak sekolah 5-14 tahun sebanyak 44.5 juta. Tidak semua bisa ditampung oleh sekolah negeri. Ini merupakan peluang untuk masuk ke bisnis pendidikan dan ikut berperan dalam mencerdaskan bangsa.

    Masalah kesehatan juga menunjukkan angka yang fantastis. Depkes memperkirakan pada tahun 2011 orang Indonesia menghabiskan dana tak kurang dari Rp 110 trilyun untuk berobat ke luar negeri. Jumlah terbesar diserap oleh Singapura. Bila kita bisa mengambil separuh dari jumlah tersebut tetap berobat di Indonesia, maka angkanya sungguh sangat besar.

    Sektor hiburan (musik, film dll) juga akan tumbuh bersamaan dengan tumbuhnya perekonomian nasional.  Pada masyarakat yang berpendapatan tinggi, berwisata pada musim liburan juga merupakan sebuah kebutuhan. Sektor pariwisata ini juga  berimbas pada tumbuhnya binis biro perjalanan, transportasi, hotel dan berbagai tenaga kerja  pendukung lainnya.

    Jumlah wisatawan  asing yang datang ke Indonesia  tahun 2011 meningkat 8,5 persen dibanding dengan tahun 2010.  Selain itu pengeluaran yang mereka habiskan juga meningkat dari US$ 1.085,75 di tahun 2010  menjadi US$ 1.118, 26 per orang per kunjungan. Jumlah perjalanan wisatawan lokal juga meningkat. Sebagai indikator wisatawan lokal di Bali meningkat 6.6%.

    Berbagai data-data tadi menunjukkan peluang bisnis di tahun 2012 atau di kalangan masyarakat China disebut sebagai Tahun Naga Air, sangat menjanjikan. Apalagi Indonesia kembali masuk dalam negara layak investasi (inversment grade).  Lembaga pemeringkat dunia Fitch Rating’s danJapan Credit Rating Agency meningkatkan peringkat Indonesia dari BB+ menjadi BBB-. Investor asing akan kembali masuk ke Indonesia dan menanamkan modalnya. Kendati begitu semuanya harus dibarengi insentif dari pemerintah berupa regulasi, akses perbankan, infrastruktur yang memadai, iklim politik yang kondusif, stabilitas keamanan dan kepastian hukum.

Leave a Reply