SEARCH :
  • posted by Anindya Nov 16th, 2011

    NYCM1Minggu, 6 November 2011, atau Senin dinihari lalu, saya berada di Amerika Serikat. Saya berada di sana bukan untuk urusan bisnis, melainkan untuk mengikuti acara lari marathon di kota New York. Acara lari yang saya ikuti ini adalah sebuah acara yang cukup terkenal, yaitu “New York City Marathon 2011”.

    New York City Marathon pertama kali dilaksanakan pada 1970 dengan melintasi lima wilayah New York, antara lain Staten Island, Brooklyn, Queens, The Bronx, dan Manhattan. Ini adalah salah satu event marathon paling bergengsi saat ini. Sedikitnya 100 ribu pelari dari berbagai negara mengikuti lari berjarak 42.195 km yang mengambil finish di Central Park ini.

    Saya tidak sendirian di acara ini. Selain saya, ada Sandiaga Uno, Dino Patti Djalal, dan sekitar 20 orang Indonesia lainnya yang kebanyakan dari mereka adalah para profesional dan pengusaha muda. Kami berbaur dengan para atlet profesional yang memperebutkan hadiah sebesar US$600 ribu.

    Kami telah datang beberapa hari sebelum hari H. Di sana kami berlatih berlari dan melakukan penyesuaian dengan kondisi cuaca di sana. Udara Kota New York sangat dingin sampai 10 derajat Celcius. Kami bahkan harus memakai sarung tangan. Sarung tangan untuk lari ini unik, karena ada tulisan rute-rute yang harus ditempuh pelari.

    NYCM2Selain itu, yang membuat berat adalah acara ini bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha. Kami bukan hanya tidak bisa berhari raya kurban bersama keluarga, namun juga harus berusaha mencari tempat salat Idul Adha. Akhirnya kami melakukan salat darurat di lokasi yang termasuk dalam rute marathon. Kami salat di samping Jembatan Verrazano, Manhattan, New York, pada sekitar pukul 07:30 pagi waktu setempat.

    Meski darurat, tidak membuat salat ini kehilangan maknanya. Semua jamaah terlihat khusyuk menjalankan ibadah sunnah ini. Imam salat ini juga istimewa. Dia adalah Imam Masjid Ground Zero, Feizal Abdul Rauf. Sesudah salat, kami pun bersiap untuk berlari. Tim Indonesia sendiri dilepas dalam rombongan berbeda. Saya memimpin gelombang kedua, sedangkan Sandiaga Uno dan Dino Patti Jalal dilepas di gelombang ketiga.

    Kami finish setelah berlari rata-rata empat sampai lima jam. Saya yang menggunakan rompi bernomor 40715 menyelesaikan lomba dengan catatan waktu 4 jam 55 menit dan 12 detik. Sedangkan Sandiaga Uno yang mengenakan rompi nomor 57410 menyentuh garis finish dengan catatan waktu 4 jam 24 menit dan 8 detik.

    Ini tentu jauh lebih lambat jika dibandingkan dengan juara putra untuk maraton ini yaitu pelari asal Kenya, Geoffrey Mutai dengan catatan waktu 2 jam 23 menit dan 15 detik. Sedangkan untuk kategori wanita dimenangkan pelari Ethiopia Firehiwot Dado dengan catatan waktu 2 jam 23 menit dan 15 detik.

    Dalam lomba ini, tim Indonesia memang jauh tertinggal dari pelari-pelari lain. Ini wajar mengingat tim Indonesia bukanlah pelari atau atlit marathon profesional. Kami juga tidak mengincar gelar juara dan hadiah dalam acara itu.NYCM3

    Lalu apa yang kami cari?

    Kami ke sana sengaja untuk memanfaatkan acara lari terkenal di dunia yang disaksikan milyaran orang itu dengan membawa misi social dalam program “Berlari untuk Berbagi”.

    Dalam program Berlari untuk Berbagi ini, kami tidak sekedar berlari mengelilingi New York City saja, namun juga mengumpulkan dana. Dana itu kami kumpulkan dengan melakukan donasi Rp80 juta setiap kilometer yang kami tempuh. Targetnya adalah mengumpulkan sumbangan sampai Rp4 miliar.

    Lalu untuk apa dana tersebut? Dana tersebut akan disumbangkan kepada yayasan yang ditunjuk oleh masing-masing donator. Salah satu yayasannya adalah Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB). Nantinya dana yang disumbangkan ini akan dikelola untuk program pemberdayaan ekonomi ibu-ibu pra sejahtera sebagai dana bergulir. YCAB menargetkan akan ada sekitar 1.200 ibu wiraswasta kecil yang terbantu dan 250 remaja putus sekolah mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan.

    NYCM4Rencana, Berlari untuk Berbagi ini akan kita adakan pada event lari lainnya. Baik di luar negeri maupun di Indonesia. Kami ingin spirit gerakan ini menyebar ke mana-mana, menginspirasi banyak orang dan bisa menolong banyak orang.

    Berlari untuk Berbagi ini memang istimewa. Tidak seperti berlari biasa yang hanya memberi manfaat kesehatan bagi pelarinya, namun melalui program ini, manfaat juga akan dirasakan oleh orang lain, melalui donasi yang diberikan.

    Berlari untuk Berbagi yang digelar di New York Marathon 2011 dan bertepatan dengan hari raya kurban juga punya makna tersendiri. Hari raya kurban mengingatkan kita untuk rela berkorban dan berbagi kepada sesama. Bentuknya bisa bermacam-macam. Saya kira upaya teman-teman yang berdonasi di acara Berlari untuk Berbagi juga merupakan bentuk pengorbanan bagi sesama.

Leave a Reply