SEARCH :
  • posted by Anindya Jun 17th, 2011

    5814258876_053b09d138_zSetelah beberapa kali diundang menjadi dosen tamu di beberapa universitas, Rabu 8 Juni lalu saya kembali diundang untuk memberikan kuliah umum. Kali ini saya memberikan kuliah umum di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Sulawesi Selatan. Saat itu saya juga datang bersama rombongan Bakrie Center Foundation (BCF) untuk memberikan beasiswa untuk mahasiswa di sana.

    Secara umum, kuliah umum saya di Unhas sama seperti kuliah umum saya sebelumnya. Antusiasme mahasiswanya juga cukup tinggi. Materi yang saya berikan juga sama, mengenai kewirausahaan. Materi ini yang selalu saya angkat, karena saya ingin lebih banyak anak muda Indonesia terinspirasi untuk menjadi wirausahawan. Karena saya yakin, semakin banyak wirausahawan di negeri ini, maka kemajuan akan semakin mudah di dapat.

    Dalam tulisan ini, saya akan membahas sebagian materi kuliah umum saya di Unhas. Bagian lain sudah pernah saya bahas dalam tulisan saya sebelumnya di blog ini. Bisa dibaca di tulisan soal kualiah umum di Prasetya Mulya, IPB, maupun Trisakti.

    Nah, salah satu materi yang saya berikan pada mahasiswa Unhas adalah mengenai cara menghadapi kegagalan. Ini menurut saya penting, karena sesungguhnya hal terberat yang akan dihadapi pengusaha bukanlah memulai usaha, tapi bagaimana menghadapi kegagalan.

    Kebetulan, sebelum acara saya sempat berbincang dengan Rektor Unhas Prof Idrus A. Paturusi. Beliau mengatakan bahwa di Makassar dulu banyak pengusaha besar, namun belakangan bertumbangan karena tidak berhasil mempertahankan usahanya. Kini, kata Pak Rektor, tinggal keluarga Kalla saja yang terbilang berhasil mempertahankan usaha besar sampai generasi ke tiga.

    Sebenarnya bukan hanya di Makassar saja hal itu terjadi. Di mana-mana memang usaha akan mendapat tantangan kegagalan dalam perjalanannya. Bagi yang berhasil melewati cobaan dan berbalik melawan kegagalan maka usahanya akan bertahan, bagi yang tidak maka usahanya akan hilang tinggal kenangan.

    Kepada para mahasiswa saya ceritakan bahwa Group Bakrie juga pernah menghadapi kegagalan itu. Saya masih ingat sekali saat krisis ekonomi tahun 1997, usaha keluarga Bakrie mendapat cobaan terberat. Saat itu kondisi sangat sulit sekali, hutang kita begitu besar, bahkan ayah saya mengatakan kami saat itu lebih miskin dari pengemis. Karena hutang kami jauh lebih besar dari apa yang kami punya. Namun Alhamdulillah setelah bekerja keras melawan cobaan itu, Bakrie kembali bangkit. Pada tahun 2001 semua masalah selesan dan sekarang bahkan menjadi lebih besar.

    5813689457_2d0d629d8d_z

    Beberapa mahasiswa Unhas saat sesi tanya jawab juga bertanya bagaimana menghadapi kegagalan yang terkadang langsung memupuskan harapan. Bahkan kata dia mengangkat tangan saja seolah susah, apalagi membangun kembali usaha. Saya katakan pada dia bahwa di saat seperti itu, lepaskanlah beban, jika perlu katakanlah kalau memang kita sedang terpuruk. Tapi itu jangan lama-lama, anda harus segera bangkit kembali.

    Dalam berbisnis sebenarnya yang penting bukan bagaimana anda gagal, atau seberapa besar kegagalan anda, tetapi bagaimana anda gagal dan bangkit melawan kegagalan. Kalo anda pernah melihat film Rocky yang dibintang Sylvester Stallone, saya ingat satu kalimat yang diucapkannya saat memerankan jadi petinju di film itu: “It ain’t about how hard you hit, it is about how hard you can get hit and keep moving forward.” Bukan seberapa berat pukulan yang diterima, tapi bagaimana anda mendapat pukulan berat dan tetap bisa bangkit dan bertahan.

    Saya sendiri oleh keluarga saya juga diajari bangkit dari keterpurukan bahkan ketika memulai berbisnis. Saya diberi tantangan menangani perusahaan yang terpuruk, misalnya Ratelindo yang kemudian setelah sukses saya bangun bernama Bakrie Telecom (BTEL), Antv, dan Lativi yang jadi tvOne. Hal ini sudah sering saya tulis di blog ini.

    Kepada mahasiswa saya katakan jika sedang terpuruk dan menghadapi kegagalan kita jangan menyalahkan orang lain. Sebagai pemimpin kita harus berani ambil tanggungjawab. Saat sedang terpuruk dulu, perusahaan Bakrie tidak pernah menyalahkan karyawannya. Tidak ada PHK masal. Bagi kami senang sama-sama, maka susah juga sama-sama.

    Ketika akan kembali membangun usaha pasca mengahdapi kegagalan, lakukan itu dengan mengerjakan hal-hal yang sederhana dulu. Jangan melaju terlalu kencang dulu. Grab low hanging fruits. Ibaratnya ambil buah yang terendah dulu. Jangan memaksa mengambil yang tinggi-tinggi dulu. Mulai selesaikan dulu masalah yang kecil-kecil. Saat menangani Ratelindo, Antv, dulu juga itu yang saya lakukan. Antv kita selesaikan masalahnya, kita stabilkan dulu. Ratelindo atau Esia kita fokuskan di Jakarta dulu, dan sebagainya.5814258064_43ed9a276a_z

    Selain itu, penting bagi kita untuk mengetahui kelemahan kita. Pemimpin yang baik harus tahu kelemahannya. Lalu jangan berhenti di sini, kita perlu mengsisi kelemahan dengan bantuan tim yang hebat. Maka rekrut orang-orang yang pintar. Kelilingi diri kita dengan orang yang pintar. Jangan malu mendelegasikan pekerjaan.

    Setelah itu mulailah membangun usaha kembali dengan prinsip-prinsip usaha yang jelas misalnya membuat target yang jelas, agar tahu kemana kita ingin pergi. Memanfaatkan kekuatan ide, fokus, mengerti value change, mengerti costumer anda, dan sebagainya. Jangan lupa berdoa agar kita diberi kesuksesan.

    Intinya jangan takut menghadapi kegagalan. Kakek saya dulu mengajarkan bahwa justru dengan kegagalan, kita dapat tumbuh lebih kuat. Kegagalan adalah langkah awal bagi keberhasilan. Hal inilah yang menjadi pegangan dalam keluarga Bakrie. Karena itu, salah satu hal mengapa Group Bakrie berhasil, adalah karena kita pernah melakukan kesalahan dan menghadapi kegagalan lebih banyak dari orang lain.

    Hal yang sama juga dikatakan Atlit Golf Alan Palmer yang menyatakan dirinya paling banyak menang karena juga paling banyak melakukan kesalahan. Jadi jangan pernah takut menghadapi kegagalan. Kegagalan jika dimaknai dengan baik justru akan menjadi awal keberhasilan bagi anda. Tentu saja ini jika anda tidak takut menghadapinya, dan mau bangkit berbalik melawannya.

Leave a Reply