SEARCH :
  • posted by Anindya Feb 28th, 2011

    IMG-20110225-00311Sabtu siang (26 Februari), udara Jakarta basah karena hujan deras mengguyur. Saat itu saya baru saja mendarat seusai melakukan perjalanan dari Mamuju, Sulawesi Barat. Walaupun cukup lelah setelah melakukan perjalanan jauh sejak Jumat pagi, tapi berbagai gagasan seolah seperti berdesakan di kepala dan meminta untuk segera dituangkan dalam tulisan.

    Saya pergi ke Mamuju itu untuk berbicara dalam seminar ekonomi dan kewirausahaan bersama Menkop dan UMKM Syarif Hasan, Sekretaris KEN Aviliani, Deputi Menko Perekonomian Edy Putra Irawady dan mantan Ketua Umum Partai Demokrat Prof Budi Santoso. Saya juga melantik pengurus Kadinda provinsi Sulbar. Perjalanan saya ke Sulbar itu memberi saya kesempatan untuk langsung melihat potensi propinsi termuda ini.

    Propinsi ini terbentuk sejak tahun 2004, sebagai pemekaran Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel). Tanah Mandar ini dikenal sebagai negeri para pelaut ulung sejak ratusan tahun lalu. Dengan perahu Sandeg-nya, mereka dikenal sebagai pelaut pemberani menantang ombak dan mengarungi laut lepas.

    Namun kini Sulbar mempunyai julukan baru, yakni sebagai “Bumi Kakao”. Julukan yang tidak berlebihan. Sebab Sulbar adalah penghasil kakao terbesar di Indonesia. Dari sekitar 540 ribu ton produksi kakao Indonesia, sekitar 100-120 ribu ton (20%) dihasilkan oleh Sulbar. Saat ini Indonesia adalah produsen ketiga terbesar kakao dunia, di bawah Pantai Gading (1,2 juta ton) dan Ghana (640 ribu ton).

    Pemerintah Indonesia melalui Gerakan Nasional (Gernas) Kakao, bertekad menjadikan Indonesia sebagai negara produsen terbesar kakao di dunia. Untuk menjadi nomor satu seperti yang dicita-citakan, Sulbar adalah tumpuan dari harapan itu. Ada dua program dalam Gernas. Pertama peremajaan tanaman kakao. Kedua adalah dengan intensifikasi dan ekstinsifikasi tanaman kakao. Gubernur Sulbar Adnan Adam Saleh sendiri sangat bersemangat mewujudkan impian itu.

    Di Sulbar saat ini ada sekitar 156 ribu Ha perkebunan kakao dari total lahan seluas 200 ribu Ha. Semua milik rakyat. Hampir 60 % rakyat Sulbar menggantungkan kehidupannya di sektor perkebunan kakao. Gubernur sendiri menegaskan ingin rakyatnya hidup sejahtera dari kakao.

    Untuk menggenjot produksi, Pemprov Sulbar juga menanam 7.1 juta pohon kakao somatic embriogenesis (GE) di lahan seluas 332 hektar. Dengan bibit SE dapat dihasilkan sekitar 2 ton per Ha. Dalam tiga tahun ke depan, diharapkan ambisi Indonesia menjadi produsen kakao terbesar di dunia bakal terwujud dan Sulbar berada di Garda terdepan dengan produksi sekitar 500 ribu ton pertahun.

    Semua mimpi Pak Gubernur memberi harapan dan merupakan kabar baik, bukan hanya bagi masyarakat Sulbar, tapi juga bagi bangsa Indonesia. Hanya sayangnya, semua potensi besar tadi belum memberi dampak langsung yang signifikan kepada masyarakat. Persoalannya klasik. Para petani selalu menerima harga yang murah, karena mata rantai perdagangan yang panjang. Padahal harga kakao di pasaran dunia sangat tinggi. Indonesia masih mengimpor bahan mentah tersebut, yang tentu nilai tambahnya kurang untuk masyarakat.

    Saya membayangkan jika pemerintah atau pengusaha nasional bisa membangun pabrik pengolahan kakao di Sulbar, pasti akan memberi nilai tambah yang luar biasa. Bukan hanya pabrik tersebut akan menyerap tenaga kerja yang banyak, namun petani juga akan mendapat manfaat besar karena mata rantai perdagangan bisa diperpendek. Belum lagi bila kita menghitung nilai tambah karena produk turunan yang akan dihasilkan. Misalnya saja muncul sejenis Toblerone made in Mamuju. Mengapa tidak?

    Bayangkan bila kemudian kita bisa mem-brandingnya dengan baik. Sulbar akan dikenal bukan hanya produsen kakao, tapi juga menjadi daerah penghasil makanan dari coklat. Cafe-cafe coklat bermunculan di kota Mamuju, Majene dan kota besar lain di Sulbar. Bisa muncul tagline baru “Serasa belum minum coklat, bila belum minum coklat Mamuju!”.

    Hmm sungguh luar biasa. Negeri kita memang sangat kaya, kita harus mensyukurinya dengan mengoptimalkan potensi yang ada dengan berbuat nyata.

Leave a Reply