SEARCH :
  • posted by Anindya Feb 6th, 2010

    Berbicara di ITB Fair 2010, 6 FebruarI 2010

    Berbicara di ITB Fair 2010, 6 FebruarI 2010

    Akhir pekan ini saya kembali melakukan perjalanan ke Bandung. Bukan seperti kebanyakan orang Jakarta yang hendak berlibur dan berakhir pekan, melainkan dalam rangka memenuhi undangan Institut Teknologi Bandung untuk memberikan paparan pembuka (keynote speech) di sesi Final Community Development Contest acara ITB Fair 2010.

    Community Development Contest yang digelar di ITB Fair ini adalah kejuaraan inovasi yang melibatkan mahasiswa-mahasiswa di berbagai universitas dan perguruan tinggi di Indonesia, untuk mencari gagasan terbaik dan realistis dalam upaya pengembangan masyarakat di Indonesia. Ada 20 finalis dari berbagai universitas yang dinilai memiliki proyek-proyek pengembangan masyarakat yang berkualitas.

    Universitas-universitas yang turut serta dalam kontes ini adalah Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Andalas Padang, Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Universitas Udayana Denpasar, Universitas Brawijaya Malang, serta beberapa yang lain. Selain itu, ITB juga bekerja sama dengan beberapa instansi terkait seperti DIKTI, LIPI, BPPT, Departemen Sosial, dan lembaga-lembaga lainnya.

    Ada dua hal yang menarik perhatian saya selama menghadiri CDC tersebut. Tak seperti kontes-kontes inovasi lain, yang menitikberatkan pada ide yang memukau, tujuan utama CDC adalah mencari solusi untuk perbaikan kondisi sosial masyarakat. Artinya, CDC sedang mencari kandidat terbaik sebagai social entrepreneur, yakni entrepreneur yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. Indikator kunci dari kinerja seorang social entrepreneur adalah bagaimana inovasi yang dihasilkannya bisa membantu masyarakat luas sekaligus mampu menggelitik atau menarik para donatur untuk mendukung program dan kegiatan mereka.

    Sama seperti di dunia bisnis, tentu ini semua membutuhkan sebuah konsep yang matang, sekaligus kemampuan entrepreneurship, meski semuanya dalam konteks yang bersifat sosial. Oleh karenanya, walaupun tidak banyak yang berhasil di bidang ini, namun tak sedikit teknopreneur besar yang juga berhasil sebagai seorang social entrepreneur.

    Salah satunya adalah  Bill Gates. Setelah pensiun dari urusan Microsoft, Gates bersama istrinya mendirikan Bill & Melinda Gates Foundation, yang secara fenomenal memerangi berbagai penyakit dan masalah sosial di seantero dunia, mulai dari HIV/ AIDS, Malaria, hingga gempa bumi Haiti. Gates sendiri mengatakan bahwa apa yang dia lakukan ketika memimpin Microsoft dengan kerja sosial bersama yayasannya, tak begitu berbeda.

    Kata Gates, menanam investasi untuk mengembangkan perusahaan dan berinvestasi untuk masyarakat, tidak berbeda. Jika di bidang bisnis ada return on capital, di bidang sosial dikenal return on social; yakni seberapa besar manfaat sosial yang bisa dipetik dari sekian rupiah yang kita keluarkan untuk kepentingan ini.

    Karena itulah, sebagai Ketua Umum Yayasan Bakrie Untuk Negeri, saya sangat antusias mendukung kegiatan yang sangat kreatif ini. Melihat kontes CDC, saya seperti menyaksikan benih-benih social entrepreneur yang sedang tumbuh dengan suburnya di Tanah Air. Besar harapan saya para finalis ini akan tumbuh sebagai social entrepreneur yang mampu memecahkan berbagai permasalahan yang kita hadapi dan membuat Indonesia kita menjadi semakin maju, modern, dan sejahtera.

12 Responses to “Benih-Benih Social Enterpreneur di ITB Fair 2010”

  1. salmanrusty says:

    wah macem-macem ya istilahnya.. Ada technopreneur.. ada social entrepreneur.. kalo saya mah ntar abis kuliah mau terjun di bidang seni, namanya apa ya bang? Art-preneur kali ya? apapunlah, yang penting semoga semua preneur di Indonesia bisa maju, makmur, memajukan, serta memakmurkan Indonesia. Maju terus bang, saya dukung terus bang Anin dgn segala ikhtiar positifnya!

  2. Ari Anshori says:

    Setuju saya. sepertinya memang kebereadaan social entrepreneur memang masih langka. jangankan social entrepreneur.. entrepreneur biasa saja kita masih kekurangan. kendala lain mungkin, di sini masih sulit mendapati seorang donatur yang memang secara khusus mau melepas uangnya pure untuk mendapatkan outcome sosial semata. jalan tengahnya mungkin setiap entrepreneur perlu punya jiwa sosial agar setiap langkah bisnisnya sedikit banyak punya peran dalam rangka solving masalah kemasyarakatan. Ada yg punya ide lain?

  3. echie_imut says:

    Ada beberapa hal yg selalu ada di benak saya setiap melihat kegiatan-kegiatan di Indonesia yang memang tujuannya sangat positif.
    * Implementasi –> contoh kecil saja, dari acara CDC diatas, apakah ada prosedur implementasi nya Pa?
    Karena saya yakin sekali, bahwa banyak sekali individu2 di Indonesia yang mempunyai gagasan-gagasan yang sangat baik untuk kemajuan Bangsa ini, hanya saja terbentur dengan implementasi yang cukup sulit dijalankan karena kendala-kendala yang dihadapi. Apakah yayasan Bakrie Untuk Negeri juga menyediakan team implementasi untuk hal2 seperti diatas (gagasan dalam pengembangan masyarakat Indonesia)?
    * Sosialisasi –> Gagasan yang baik tentu saja harus disosialisasi kan kepada object dari gagasan tersebut, hal ini juga terkadang masih kurang mengena, program tidak tersosialisasi kepada object yang tepat.
    *Monitoring –> hal ini juga saya lihat menjadi point yg masih perlu ditingkatkan, tidak usah jauh2, di lingkungan sekitar saja, banyak program-program yang monitoring nya kurang,setelah diluncurkan, tidak ada monitoring dan feedback yg dilakukan dengan efektif dan efisien.

    Hal lainnya, mudah-mudahan inovasi yang dihasilkan dalam acara CDC tersebut dapat dijalankan minimal oleh perusahaan2 maju dalam program CSR nya.

    Salam,
    –echie–

    • Anindya says:

      setuju sekali.
      memang program seperti ini baru mencakup aspek sosialisasi. untuk aspek yang lain dibutuhkan partisipasi penuh dunia usaha.
      untuk bakrie untuk negeri, karena programnya internal, kita melakukan implementasi dan monitoring sendiri.
      mungkin ke depannya bisa lebih banyak kerja sama dengan pihak luar.

  4. ipang says:

    acaranya mantab..semoga anak ITB bisa sukses seperti keluarga bakrie

  5. RAYMOND HENDRICK JULIO says:

    Seperti kata Pak Ciputra, diperlukan banyak entrepeneur untuk membangun negeri ini. Terima kasih Bakrie atas kepedulian ikut membangun negeri kita tercinta ini =)

  6. Dwi says:

    Moga saya juga bisa mengikuti jejak jadi enterpreneur .
    Salam :http://www.facebook.com/pages/AMARTHA-Asosiasi-Penggemar-Tanaman-Hias-Blitar/302328724124?filter=1

  7. akhsan says:

    Suatu kehormatan besar apabila Bakrie Corporation bisa datang di Universitas Muhammadiyah Malang untuk berbagi pengalaman dan tentunya mengjari kami kiat-kiat suksesnya.. Terima kasih.
    CP : 085334019229

    • Anindya says:

      bisa dikirim detailnya jika ada kegiatan yang bisa kami kunjungi. karena harus mengatur waktu yang pas dengan kegiatan lainnya

  8. Salam kenal Mas Anindya,
    Saya liat ide-ide dari finalis CDC, belum ada ya yang fokus pada pembangunan diri masyarakat menggunakan teknologi internet, misalnya untuk mengakses berbagai informasi, menambah knowledge , atau untuk pendidikan anak-anaknya. Menurut saya, pembangunan mental untuk menjadi manusia yang haus akan informasi dan knowledge sangat penting, karena itu dasar kemajuan manusia : bertanya dan mencari jawaban.
    CDC itu cakupannya apa ya, Mas?

  9. riawan says:

    Ide2 sosial melalui multimedia ini hrs trs d kembangkan dan pemerintah juga hrs ikut serta. jika ingin tepat sasaran

  10. Rendy says:

    di tunggu acara” enterpreneur lain nya :)

Leave a Reply