SEARCH :
  • posted by Anindya Dec 24th, 2009

    esia musik 1Kemarin siang, Rabu, 23 Desember 2009, di Hotel Intercontinental, Jakarta, saya akhirnya dapat ‘kopi-darat’, bertemu, makan siang bersama, dan mengobrol langsung dengan para pemenang lomba esai di blog saya tentang ide mengatasi musik bajakan di Indonesia.

    Dari 10 pemenang, delapan orang datang. Salah satunya adalah Lukman Febrianto yang sampai menyempatkan datang jauh-jauh dari Surabaya. Wah, saya berterima kasih sekali. Dua tidak bisa hadir. Satu karena berhalangan, satu lagi karena tinggal di Pontianak, Kalimantan Barat.

    Saya juga amat berterima kasih kepada tiga bos perusahaan rekaman terbesar di Indonesia, yang menyempatkan hadir di acara tersebut dan telah menjadi juri bersama saya dalam lomba esai ini. Mereka adalah: Pak Jusak Sutiono yang tidak lain adalah bos Warner Music Indonesia, Pak Toto Widjojo selaku Managing Director Sony Music Indonesia, dan Pak Gumilang Ramadhan yang merupakan Direktur Musica Studio.

    Sekali lagi selamat kepada para pemenang atas pemikiran dan gagasan yang telah disampaikan melalui blog saya ini.

    Buat saya, mengatasi persoalan musik bajakan adalah hal yang sangat penting bagi pembangunan kita ke depan. Kenapa? Mari kita tengok sejarah ekonomi dunia barang sebentar.

    Sejak Perang Dunia II, terjadi ketimpangan perdagangan dunia antara negara-negara di kawasan Timur dan Barat. Negara Barat yang memegang kendali saat itu mengambil posisi sebagai negara konsumen, sementara negara-negara Timur lebih berperan sebagai produsen. Tapi, sebagai negara konsumen, Barat banyak menuntut kemudahan dari Timur. Misalnya, meminta opsi penundaan pembayaran dalam tempo yang cukup lama. Kasarnya, mereka makannya banyak, berhutang pula. Contohnya adalah Amerika Serikat yang merupakan negara penghutang terbesar di dunia.

    Selain itu, negara-negara Barat, dalam hal ini Amerika Serikat, punya satu hal yang tidak dimiliki negara-negara Timur. Mereka bisa mencetak dolar Amerika sekehendaknya, sementara kita tidak bisa. Bila sedang kesulitan untuk membayar, mereka tinggal cetak uang lebih banyak dan didistribusikan ke seluruh dunia.

    Dengan meletupnya krisis dunia 2008, pertumbuhan ekonomi mereka mandek bahkan minus. Muncullah kesempatan untuk mengubah kondisi ini. Bukan berarti saya anti Barat dan memusuhi mereka. Tapi, saya berkeyakinan, situasi timpang ini harus kita usahakan untuk bisa lebih berimbang.esia musik 2

    Bila diibaratkan, dalam ekonomi dunia selama ini kita berperan lebih seperti penjahit, sementara mereka menjadi desainernya. Contoh: Nike, yang tidak pernah memproduksi sendiri sepatu mereka selama 30-an tahun terakhir. Mereka mendesain dan memesan sepatu dari negara-negara Timur, untuk kemudian dijual kembali. Bahkan semenjak lima tahun terakhir, mereka sudah tidak lagi mendesain sendiri, karena desainnya mereka crowd-sourced, sayembarakan melalui internet.

    Menurut saya, Indonesia tidak boleh lagi hanya menjadi tukang jahit tapi sudah harus mulai belajar menjadi seorang desainer. Sebab, bila kita bandingkan antara Barat dan Timur, kita punya kekurangan dan kelebihan. Mereka punya pasar, kita juga punya. Kita bisa memproduksi, mereka tidak. Masalahnya sekarang, mereka bisa mendesain, kita belum. Kalau kita mulai bisa mendesain, tentu kita akan punya daya saing yang lebih kuat.

    Nah, lalu apa hubungannya dengan pembajakan? Kenapa pembajakan sangat penting untuk dicegah? Karena itu tadi, kita harus segera beralih status dari sekadar penjahit menjadi desainer dan pembeda utama antara penjahit dengan desainer terletak pada faktor kreativitas.

    Coba bayangkan, di saat kita harus mulai membangun kreativitas, para pembajak merajalela membajak kreativitas orang. Ini sama saja seperti kita membiarkan mereka membunuh kreativitas orang itu. Memerangi pembajakan merupakan salah satu pilar utama dalam membangun industri kreatif. Urat nadi dari industri kreatif adalah hak intelektual.

    Khusus tentang pembajakan musik di Indonesia, kondisinya memang seperti kian memprihatinkan. Untuk memeranginya, kita memerlukan sejumlah siasat untuk membantu para musisi dan pengusaha musik melindungi hasil kerja keras dan kreativitas mereka.

    Ada tiga hal yang perlu dilakukan. Yang pertama kampanye anti pembajakan. Tapi, kita tidak bisa hanya mengandalkan kampanye semata. Tanpa langkah kongkrit di lapangan, itu akan kosong belaka. Oleh karenanya perlu juga digalakkan penegakan hukum yang baik dan berdisiplin. Ketiga, perlu adanya dukungan teknologi yang canggih untuk mengatasi pesatnya laju pembajakan.

    Untuk menghilangkan pembajakan sama sekali, saya kira sulit. Media yang digunakan kini lebih variatif. Dari dunia maya saja, orang kini bisa mengunduh hampir semua lagu yang mereka mau. Para pembajak juga cenderung lebih ‘kreatif’ dari produsen atau perusahaan rekaman. Karena itu, semata mengandalkan proteksi rasanya akan sia-sia saja. Coba bayangkan, saya masih ingat beberapa tahun lalu di Glodok bahkan pernah ada kontes di depan umum untuk unlock HP dengan mata tertutup … Buset!

    Apalagi sudah menjadi kebiasaan di masyarakat kita, untuk mendapatkan sesuatu secara gratis atau dengan hanya mau membayar semurah mungkin.

    Tapi, saya yakin, kita bisa meredamnya dengan melakukan tiga langkah di atas secara terpadu, simultan dengan upaya untuk menekan harga konten semurah mungkin. Walau produk bajakan tetap bisa dicari, tapi bila harga produk aslinya tidak jauh beda, saya pikir kebiasaan ini pelan-pelan bisa diubah.

    Kelahiran Hape Esia Music Box merupakan salah satu upaya kami di Bakrie Telecom.
    Dengan ini, kami berharap bisa membantu artis dan perusahaan label, yang pendapatan mereka dari penjualan kaset dan cakram CDnya terancam oleh maraknya pembajakan. Dengan memanfaatkan teknologi full track download lagu dari Hape Esia Music Box ini, kami berharap para pengguna ponsel bisa menikmati musik secara terjangkau dan legal.

    Ini tentu cuma salah satu opsi dan tidak dimaksudkan untuk bisa menjadi solusi bagi semua masalah pembajakan yang begitu kompleks. Ini hanya sebuah ‘pulau kecil’ inisiatif dari kami yang kami harap juga dilakukan oleh pihak-pihak lain, sehingga kita bisa membangun sebuah sinergi untuk kian memajukan industri kreatif di Indonesia.

    Sekali lagi, terima kasih banyak untuk teman-teman blogger semua yang telah menyumbangkan pemikirannya. Mari kita gali terus gagasan untuk memerangi musik bajakan di Indonesia.

7 Responses to “‘Kopi Darat’ dengan Pemenang Esai Anti Musik Bajakan”

  1. Raymond Hendrick Julio says:

    Pembajakan harus diberantas karena merugikan banyak pihak. Terimakasih ada yg peduli akan hal itu =)

  2. Alexapb says:

    This is not easy to complete best essay writing close to this good post! Choose the superior writing service to get academic success or buy an essay here!

  3. udet says:

    Dear Pak Anin, terima kasih atas kopi daratnya Pak ! + HP :) dan sharing ilmunya yang sangat bermanfaat. Selamat membuat “pulau-pulau” yang lain untuk menumbuhkan kreatifitas2 agar musik Indonesia menjadi tuan rumah dan dihargai di negerinya sendiri Amieen.

    Sekali lagi terima kasih apresiasinya, salam buat keluarga
    Udet

  4. ma'mun sholeh says:

    sebelum nya saya mengucapkan terima kasih sebanyak – banyak nya.
    sungguh, pertemuan kemarin adalah sebuah pengalaman yang berharga untuk saya. sebuah kejutan akhir tahun yang tidak biasa tentu nya.
    semoga bermanfaat untuk kita semua dan masa depan karya seni bangsa tercinta ini.

    sukses selalu untuk pak anindya n bakrie.. sukses juga untuk esia dengan terobosan yang selalu menjadi yang pertama..

    terima kasih

  5. tukangpoto says:

    Selamat atas inovasi dari Esia!

  6. yordan says:

    mantab, inovasi yang brilian

    anda harus lebih berani melakukan hal seperti ini lagi

  7. home loans says:

    I think that to get the mortgage loans from creditors you should have a firm reason. However, once I have got a student loan, just because I wanted to buy a bike.

Leave a Reply