SEARCH :
  • posted by Anindya Nov 21st, 2009

    Oleh: Anindya N. Bakrie (Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia)

    *Artikel ini dipublikasikan pada halaman Opini, Harian Bisnis Indonesia, edisi Sabtu, 21 November 2009

    Walau belum selesai, sejauh ini kita telah dengan baik melalui fase ICT (Information and Communications, Technologies) 1.0 yakni periode membangun konektivitas melalui komunikasi suara dan data.

    Selama 5 tahun terakhir kita berhasil mengembangkan teledensitas (populasi penggunaan jaringan telepon) dari hanya sekitar 10% menjadi sekitar 66%. Dalam kurun waktu yang sama, tarif telepon kita telah bergerak dari posisi kedua termahal menjadi kedua termurah sedunia.

    Saya kira tidak sampai 5 tahun lagi-bahkan bisa jadi hanya dalam waktu 3 tahun-kita akan mencapai tingkat penetrasi data yang sama dengan tingkat penetrasi telepon saat ini.

    Tarif akan turun, sementara kecepatan dan kapasitas data akan terus meningkat. Hal itu sangat dimungkinkan karena akan semakin banyak warga masyarakat memiliki telepon genggam berjenis data-enabled phone.

    Sekarang, secara perlahan kita sudah memasuki tahap ICT 2.0. Yang jadi soal pada era ini bukan lagi bagaimana cara kita mendapatkan konektivitas. Konektivitas akan menjadi suatu keniscayaan karena bisa dengan lebih mudah diperoleh.

    Tantangannya kini adalah bagaimana mengisi konektivitas itu. Saya percaya, pada era ini penguasaan terhadap data dan kontenlah yang akan membedakan kekuatan suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Dan inilah saatnya kebangkitan para teknopreneur-UKM, atau para pengusaha UKM di bidang telematika.

    Tidak seperti fase ICT 1.0 yang didominasi perusahaan besar-karena memerlukan modal besar untuk membangun infrastruktur dan hardware pendukung-ICT 2.0 adalah era bisnis piranti lunak dan konten.

    Faktor lain, ICT 2.0 juga merupakan era lahirnya ekosistem bisnis yang kolaboratif. Pada satu titik, perusahaan besar pada umumnya akan lebih sulit berinovasi karena terlalu gemuk.

    Oleh karena itu, mereka harus bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang lebih kecil untuk dapat terus menghasilkan produk-produk unggulan. NewsCorp mengakuisisi MySpace karena mereka ingin dapat segera ikut berkiprah di sektor Internet.

    Tak boleh kita lupakan, banyak teknopreneur global juga bermula dari UKM. Microsoft memulai bisnis mereka dari garasi rumah. Google dan Facebook adalah contoh-contoh sukses serupa, dan masih banyak lagi yang lainnya.

    Lalu apakah kita punya kemampuan untuk bersaing di sektor ini di kancah global?

    Jelas punya. Salah satu buktinya ditunjukkan oleh tim Indonesia yang berhasil menjuarai kontes teknologi mahasiswa sedunia Imagine Cup berturut-turut pada 2008 dan 2009.

    Pada 2008, mereka merebut penghargaan bergengsi The Rural Inovation Achievement Award di Paris dengan mengembangkan program untuk mendeteksi kerusakan ekosistem lingkungan. Setahun kemudian di Mesir, tim mahasiswa kita memenangi Windows Mobile Award dengan mengembangkan program untuk mendeteksi penyakit malaria.

    Satu lagi yang cukup membanggakan adalah aplikasi Nokia Setting Wizard–yang digunakan di perangkat ponsel Nokia -diciptakan oleh seorang putra Bangsa, Kendro Hendra.

    Konteks ekonomi nasional pun amat menunjang. UKM adalah tulang punggung perekonomian kita. Menurut BPS, pada 2007-2008 ada sekitar 49,8 juta UKM yang menyumbang 53,6% PDB kita dan menyerap sekitar 97,3% lebih dari total angkatan kerja.

    Sejumlah analis melihat perekonomian kita dengan sangat optimis. Morgan Stanley, misalnya, berpendapat bahwa Indonesia seharusnya ikut dimasukkan ke dalam BRIC-kelompok negara yang diyakini merupakan kekuatan ekonomi baru dunia.

    Oleh karena itu, namanya perlu diubah menjadi BRIIC: Brasil, Rusia, India, Indonesia, dan China. Atau, seperti yang dinyatakan Nicholas Cashmore Indonesia perlu disetarakan dengan China dan India-sehingga istilah Chindia harus dimodifikasi menjadi Chindonesia.

    Kunci untuk ini saya kira terletak pada kecermatan kita memusatkan titik fokus di-meminjam terminologi Michael Porter-cluster tertentu. Para teknopreneur kita harus mengarahkan pengembangan bisnis mereka pada segmen di mana Indonesia telah memiliki berbagai keunggulan-kompetitif.

    Dengan begitu produk mereka akan memiliki nilai tambah di kancah dunia, yang juga bagus untuk meningkatkan skala ekonomi bisnis tersebut, misalnya, software dan konten yang berkaitan dengan industri perkebunan, perikanan, pertambangan, ataupun perubahan iklim.

    Selain itu, kita harus menjawab sejumlah tantangan yang kini menghadang. Produk Indonesia selama ini kurang dikenal di tingkat dunia. Karena itu capaian-capaian di dunia internasional seperti Imagine Cup di atas akan sangat membantu.

    Tantangan lain, kita harus memberi prioritas yang lebih pada bidang inovasi. Saat ini Indonesia hanya membelanjakan 0,7% dari PDB untuk bidang penelitian dan pengembangan.

    Infrastruktur kita juga harus segera ditingkatkan. Biaya internet dan koneksi pita lebar (broadband) kita masih dua kali lebih mahal dari India dengan kualitas yang lebih rendah.

    Selain itu, belanja di bidang teknologi informasi kita juga masih terlalu sedikit, yakni baru sekitar 1,4 persen PDB. Sebagai perbandingan, Amerika Serikat sudah mencapai 3,5% dan Singapura bahkan lebih besar lagi, yakni 3,7%.

    Posisi Kadin

    Visi Kadin Indonesia di sektor ini adalah “menumbuhkan industri berbasis TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dan menciptakan iklim usaha TIK yang kondusif serta menjadikan TIK sebagai faktor pemungkin utama terciptanya masyarakat berbasis pengetahuan Indonesia.”

    Oleh karena itu, mendorong teknopreneur untuk meraih potensi terbaik mereka di dunia yang begitu kompetitif dan sedang mengalami konvergensi menjadi perhatian utama Kadin.

    Untuk mendukung visi tersebut, Kadin telah mencanangkan sejumlah program, mulai dari menciptakan berbagai stimulus bagi terbentuknya pasar (market place) maupun mendorong lahirnya regulasi yang mendukung, serta berusaha memperjuangkan adanya insentif yang pada akhirnya akan kembali ke industri.

    Program-program lainnya adalah yang berkaitan dengan perlindungan hak kekayaan intelektual, pengembangan pengetahuan dan keterampilan, penyediaan cara-cara baru untuk menstimulasi kian luasnya aktivitas berbagi pengalaman, ide, dan cerita sukses; serta mempertemukan stakeholders yang potensial.

    Selain itu, kami juga mencoba untuk mengajukan proposal pendirian ICT Fund. Ini adalah dana yang ditujukan untuk membantu usaha kecil di bidang software dan konten. Sebagai contoh, selama ini operator-operator besar melalui berbagai macam skema-salah satunya berkaitan dengan hak pakai frekuensi-dikenakan kewajiban untuk menyetor sejumlah dana kepada negara sebagai pendapatan negara bukan pajak. Pada 2008, dari sini terkumpul dana setidaknya sebesar Rp 7 triliun. Kami mengusulkan supaya 10 persen dari dana tersebut (sekitar Rp 700 miliar) dialokasikan untuk ICT Fund ini.

    ICT Fund ini akan dikelola dan diawasi oleh pemerintah atau bisa juga dikelola oleh perusahaan fund management milik pemerintah seperti Danareksa dan Bahana. Kami dari Kadin siap menyediakan matching fund yang pada awalnya kami targetkan mencapai rasio 10 : 1-setiap pemerintah mengalokasikan kembali dana PNBP di atas sebesar Rp10, Kadin akan menggalang dana Rp1 untuk menambah dana pemerintah di ICT Fund.

5 Responses to “Menata Teknopreneur UKM: Indonesia mampu bersaing di sektor ICT global *”

  1. Adie Marzuki says:

    Publikasi mengenai keunggulan inovator Indonesia lebih terdengar di ajang kompetisi daripada di industri. Hal tersebut lebih karena industri belum memberikan ‘proper appreciation’ bagi produk dalam negeri, dan menempatkannya dlm pilihan ketiga – atau keempat, diluar konteks kualitas.
    Dalam BRICS and Beyond, Indonesia sudah masuk kedalam kelompok Next 11 (N11), dan dalam salah satu simulasi, posisi Indonesia di 2050 sudah diatas Jepang. Salah satu aspek minus yg menonjol dalam penentuan peringkat adalah political will pemerintah.
    Teknopreneur di Indonesia saat ini harus lebih banyak memberi fokus untuk managing inovation, dan mengarahkan inovasi serta pengembangan industri di ‘bottom of the pyramid’, dimana pasar yg tersedia sangat besar, dan daya serapnya relatif meningkat tinggi, khususnya dalam hal belanja ICT.
    Kami dari Teknopreneur Forum mengharapkan akan dapat bersinergi dg KADIN dalam mengakselerasi kemajuan Teknopreneur di Indonesia.

  2. Agustian P says:

    Setuju Pak, perlu ada ICT Fund dong, terutama untuk mendorong web 2.0 startup yang ada di sini. Perusahaan startup di sini banyak yang gulung tikar karena para investor lebih suka tanam uang di sektor yang lebih ‘pasti balik modal’, sementara perusahaan-perusahaan agensi iklan lebih suka beriklan di media konservatif. Tanpa model bisnis yang menarik, susah sekali startup kita bertahan. Paling-paling cuma berharap ada investor asing yang mau melirik ke kita, karena terus terang, mereka lebih aware dengan potensi pasar online yang bakal ‘happening’ di sini.. Bisa-bisa, ke depan, industri online didominasi pemain asing nih..

  3. Mahdi Rusli says:

    Kalo gasalah ide untuk didirikkannya semacam ICT Fund sudah ada sejak lama ya Pak. Tapi kok sepertinya pemerintah tak begitu peduli dengan permaslaaahan ini. Barangkali ini memang harus didengung-dengungkan lagi.. apalagi momentumnya juga lebih tepat, sepertinya, supaya pemain-pemain lokal juga bisa berkembang, bukan cuma perusahaan asing saja..

  4. putra says:

    Pendirian ICT Fund memang sangat diperlukan bagi bangkitnya UKM di industri IT, pasalnya bisnis di sektor ini tak akan bergairah tanpa keberadaan mereka.

    Namun, sudikah operator-operator besar menyisihkan dananya dan apakah pemerintah tak takut kehilangan jatahnya bila berubah bentuk menjadi stimulus bagi usaha kecil di bidang software dan konten.

    Begitu pula KADIN, jgn setengah hati bila memperjuangkan hal itu. Sebab, sering terjadi wacana tinggal wacana semata.

  5. Gianto says:

    Bila ada istilah BRIIC untuk Brazil Rusia India Indonesia & China, Chindonesia untuk China Indonesia, kedepan saya usul supaya ada istilah CUNdonesia. Supaya Indonesia bisa segera menyusul Canada, US, dan Norway sebagai negara yang memiliki dukungan terbaik terhadap pengembangan industri IT (versi Economist). Sebab dari sisi sumber daya kita sudah tidak kalah.. tinggal diberikan dukungan terhadap akses financing, serta kebijakan strategis pemerintah yang mendukung terbentuknya ‘cluster’ teknologi telematika itu di sini…Moga saja Pak Menkominfo yang baru, membaca tulisan Mas Anin di blog ini.

Leave a Reply