SEARCH :
  • posted by Anindya Oct 24th, 2009

    Bila pada tulisan sebelumnya saya banyak membahas masalah-masalah yang serius, kali ini saya ingin menulis sesuatu yang lebih ringan. Saya ingin berbagi yakni tentang tiga buku menarik yang telah saya baca, yakni “The Top Ten Mistakes Leaders Make,” “How the Mighty Fall,” dan “Collapse”.

    Yang membuat saya tertarik, ketiganya justru mengangkat tema kesalahan dan kegagalan di saat banyak buku lain bicara mengenai keberhasilan. Keberhasilan memang sesuatu yang harus dicapai. Tapi menurut saya, kita perlu mempelajari kegagalan sama banyaknya, bahkan lebih banyak, dari keberhasilan itu sendiri. Selesai membaca ketiga buku ini saya jadi bisa memandang kegagalan dari perspektif yang berbeda.

    Buku-1:  “The Top Ten Mistakes Leaders Make”

    Buku ini karangan Hans Finzel terbitan David C. Cook. Intinya, mengupas tentang kesalahan klasik yang dibuat seorang pemimpin. Saya pikir buku ini sangat aplikatif dan lintas bidang. Tak hanya untuk kalangan pebisnis, tapi juga bisa diterapkan oleh para pemimpin pada umumnya, baik di perusahaan, organisasi sosial, lembaga, dan lain sebagainya.

    Menurut Finzel, definisi sederhana dari sebuah kepemimpinan adalah pengaruh. Seorang pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang mampu menggerakkan orang lain ke suatu tempat, di mana orang itu tak mungkin pergi ke tempat itu semata didasari oleh kemauannya sendiri. Sayangnya, kebanyakan pemimpin gagal menanamkan pengaruh yang kuat kepada orang-orang yang ia pimpin. Kenapa?

    Kebanyakan pemimpin meniru gaya kepemimpinan yang buruk dari orang lain. Mereka memimpin dengan cara yang sama saat mereka dipimpin oleh orang lain. Selain itu, banyak pemimpin tidak memiliki keahlian-keahlian dasar yang semestinya dimiliki seorang pemimpin. Yang tak kalah penting, saat ini kita sudah sangat sulit mencari model mentor dan kepemimpinan yang baik.

    Karena sebab-sebab itulah, banyak yang mengulang 10 kesalahan berikut:

    1. Top-down attitude
    Di antara 10 “dosa” pemimpin, gaya kepemimpinan top-down yang otokratik menempati posisi paling atas. Tidak ada kesalahan yang lebih besar dan masih sangat sering terjadi, juga terus diwariskan dari generasi ke generasi, selain dari kesalahan ini.

    Model ini adalah model kepemimpinan yang paling tradisional, umum, alamiah, dan mudah. Kesalahan ini terjadi karena seorang  pemimpin dianggap nomor satu, serba mengetahui semuanya, tanpa melihat realitas di lapangan. Pemimpin ini meyakini bahwa setiap orang harus melayani dia. Padahal, sebaliknya, seorang pemimpin seharusnya meyakini sebuah prinsip bahwa dialah yang seharusnya melayani orang lain dalam institusinya–menyediakan energi, segenap sumber daya, jaringan, informasi, atau apapun yang dibutuhkan, bagi mereka yang dipimpinnya supaya mereka bisa bekerja secara efektif.

    2. Putting paperwork before peoplework
    Biasanya, saat ingin mengambil keputusan, kita sering mengutamakan hitung-hitungan di atas kertas terlebih dahulu. Padahal, seringkali ujung-ujungnya yang menentukan keberhasilan dari sebuah organisasi adalah orang, bukan rencana di atas kertas. Jadi, lebih baik mempersiapkan orang-orang yang baik di dalam tim dari pada membuat rencana yang canggih dan muluk-muluk.

    3. Absence of affirmation
    Setiap orang tumbuh dan berkembang sejak kecil berdasarkan adanya penghargaan. Itu tidak bedanya setelah kita dewasa. Seorang pemimpin yang baik akan selalu memberi penghargaan saat bawahannya membuat pencapaian.

    4. No room for mavericks
    Kamus Webster mendefinisikan ‘maverick’ sebagai seorang pionir, individu independen yang tidak sama dengan kebanyakan tipe orang. Banyak pemimpin yang mengabaikan hal ini, dan tidak memberi ruang yang cukup bagi orang-orang istimewa seperti mereka. Padahal, boleh jadi mavericks ini yang bisa berguna bagi organisasi pada suatu saat.

    Seorang pembuat jam asal Swiss menemukan quartz watch, tapi sayang atasannya malah menolak temuannya itu yang akhirnya malah dipatenkan oleh Jepang dan Amerika. Pangsa pasar global jam tangan buatan Swiss kemudian menurun drastis dari 85 persen menjadi kurang dari 15 persen. Sumber kerugian dari kehilangan seorang maverick bukan hanya karena mereka keluar dari perusahaan, melainkan juga dari apa yang dapat dilakukannya untuk perusahaan lain.

    5. Dictatorship in decision making
    Ini mirip dengan poin di nomor satu. Seharusnya sebelum menentukan keputusan, seorang pemimpin meminta masukan dari berbagai pihak, memilah-milahnya, untuk kemudian mengambil keputusan terbaik. Bukan berarti pemimpin tidak boleh mengambil keputusan. Tapi dengan melibatkan banyak orang sebelum memutuskan sesuatu membuat mereka akan merasa memiliki sehingga lebih bersungguh-sungguh dalam mengerjakannya kemudian.

    6. Dirty delegation
    Yang harus selalu diingat, pendelegasian harus selalu cocok dengan kemampuan dari para pekerjanya sendiri.

    7. Communication chaos
    Komunikasi tidak hanya dibutuhkan saat perusahaan masih kecil. Komunikasi justru semakin dibutuhkan ketika perusahaan menjadi semakin besar dengan jumlah pekerja yang semakin banyak. Apalagi dengan berbagai kemajuan teknologi, seharusnya komunikasi bisa dilakukan dengan lebih interaktif.

    8. Missing the clues of corporate culture
    Jangan menganggap remeh kekuatan budaya organisasi Anda. Sebab, kultur perusahaan adalah cara para karyawan bersikap dan berkreasi  berdasarkan nilai-nilai tradisi yang mereka pegang.

    9.  Success without successors
    Ini yang membahayakan suatu organisasi. Seorang pemimpin harus bisa menentukan waktu yang paling tepat untuk lengser dan memberikan tongkat estafet kepada pemimpin berikutnya. Karena dengan begitu akan terjadi regenerasi dalam organisasinya. Bagaimanapun, zaman selalu berubah. Sangat berbahaya bila perusahaan tidak bisa mengikuti perubahan itu.

    10. Failure to focus on the future
    Tiap organisasi akan selalu diperkuat oleh sekelompok generasi baru pemimpin yang kembali merevitalisasi perusahaan tersebut. Oleh karenanya, konsentrasi seorang pemimpin jangan ditujukan kepada masa lalu atau masa kini, melainkan masa depan.

    Buku-2: “How the Mighty Fall, and Why Some Companies Never Give In”

    Buku ini karangan Jim Collins dan diterbitkan Random House pada tahun 2009 ini. Pada garis besarnya buku ini bercerita tentang kenapa sebagian perusahaan bisa bertahan, sementara sebagian yang lain terpaksa gulung tikar.

    Buku ini menyodorkan sebuah contoh kasus yang menarik tentang perjalanan dua perusahaan di AS, Wal-Mart dan Ames Department Stores. Keduanya sama-sama bergerak di bisnis ritel.

    Sejak 1974, Wal-Mart dan Ames memiliki tingkat pertumbuhan yang relatif sama. Begitu pula dengan pergerakan harga saham keduanya, selama sekitar 12 tahun. Namun, pada suatu titik, yaitu pada 1986, pertumbuhan Wal-Mart terus meningkat, sementara Ames malah menurun hingga akhirnya bangkrut pada 1992. Kenapa bisa terjadi?

    Ternyata, demikian argumen Collins, setiap perusahaan sudah pasti mengalami masa naik dan turun, dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa dicegah.

    Menurutnya, secara umum, setiap perusahaan mengalami lima tahapan sebagai berikut.

    1. Hubris born of success
    Pada tahap ini sebuah perusahaan pasti berkembang, bahkan walau pemimpin perusahaan menempuh keputusan yang salah. Kemajuan yang terjadi pada tahap ini seringkali membuat seseorang menjadi arogan dan tidak mau belajar. Mereka kurang bisa melihat faktor-faktor pendukung yang membuat perusahaan bisa memperoleh kemajuan sejauh itu. Biasanya mereka mengabaikan faktor keuntungan (lucky) dan mengabaikan pemahaman serta pengetahuan tentang kondisi yang melatari kesuksesan itu.

    2. Undiscplined pursuit of more
    Pada tahap ini perusahaan akan berusaha untuk mencapai skala yang lebih besar, pertumbuhan yang lebih tinggi, serta berbagai ambisi lainnya. Namun, ketika organisasi tumbuh melebihi kemampuannya dan tak mampu mengisi posisi-posisi penting yang diperlukan  dengan orang yang tepat, maka perusahaan itu telah membeli tiket bagi kejatuhannya sendiri.

    3. Denial of risk and peril
    Tahap ini membunyikan alarm kepada perusahaan tentang bahaya yang menanti. Namun, kebanyakan pemimpin perusahaan menganggapnya sebagai gangguan kecil yang temporer dan berdalih “ah, sebenarnya secara fundamental tidak ada yang salah.”

    Bila pemimpin perusahaan mengabaikan amcaman bahaya di tahap ini, maka perusahaannya akan langsung menuju fase berikutnya.

    4. Grasping for salvation
    Di sini akumulasi bahaya dan resiko telah menyebabkan penurunan kinerja yang bisa dengan jelas dilihat oleh semua orang. Yang sering jadi masalah adalah bagaimana merespon semua bahaya itu. Ada yang kemudian kembali menerapkan disiplin yang ditempuh pada saat sukses di periode awal, tapi ada pula yang mencari alternatif penyelamatan instan– entah dengan mencari pemimpin yang karismatik, menerapkan strategi revolusioner yang belum teruji, atau transformasi yang radikal.

    Boleh jadi, penyelamatan instan bisa memberikan hasil seketika, namun kesulitan yang dihadapi di tahap ini biasanya tak akan segera teratasi dengan solusi instan tadi.

    5. Capitulation of irrelevance or death
    Pada tahap ini kemunduran drastis dan kesalahan-kesalahan yang ongkosnya sangat mahal mulai menggerogoti kekuatan finansial perusahaan, semangat para karyawan, bahkan membuat banyak pemimpin puncak meninggalkan perusahaan.

    Pada kasus Wal-Mart vs. Ames, keduanya adalah perusahaan yang sama-sama memulai bisnis mereka dari luar kota. Mereka menyediakan segala barang kebutuhan dalam jumlah yang sangat besar.

    Termakan oleh ambisi yang tak didasari data, Ames ingin cepat besar. Ingin meraih untung besar dalam waktu singkat, Ames mengakuisisi banyak perusahan ritel yang berlokasi di dalam kota. Padahal, jika mengikuti logika bisnis, langkah itu berpotensi membuat bisnis jadi tidak berkelanjutan. Langkah awal mereka mendirikan perusahaan di luar kota adalah justru untuk menghindari biaya yang sangat mahal di dalam kota. Untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan itu, tentu dibutuhkan biaya yang besar. Belum lagi ongkos-ongkos lain. Jadi, begitu langkah itu gagal, aset awal mereka langsung digerogoti.

    Tentu saja, bukan berarti perusahaan tidak boleh berkembang. Yang terpenting, semuanya haruslah didasarkan pada insight atau ilmu. Organisasi juga harus siap. Berkembang bukanlah sekadar masalah ada atau tidak ada uang, tapi musti dipikirkan siapa yang akan mengerjakannya.

    Lalu apakah ada jalan keluar dari masalah ini?

    Tentu saja ada. Perusahaan itu seperti manusia, akan mengalami naik dan turun. Tidak apa-apa bila performa perusahaan sedang turun selama kita tahu bagaimana membuatnya naik lagi.

    Salah satu cara yang paling baik adalah untuk selalu mencoba mengerti dan jangan berhenti mencari jawaban yang menantang dan konstruktif kenapa perusahaan bisa seperti ini. Kita harus jujur dalam mencari jawaban di balik suatu data.

    Saat kita gagal, jangan malu-malu mengakui kita salah. Apabila berhasil, jangan malu-malu mengatakan bahwa kita berhasil karena keberuntungan, bukan karena kita hebat.  Hal ini agar kondisi bisa secepatnya selalu kita analisa.

    Kita harus berdisiplin untuk selalu mencari insight ketimbang mengeluarkan pernyataan bombastis. Dan biasanya, perusahaan yang bisa bangkit kembali cenderung akan lebih kuat karena ia akan memasuki siklus berikutnya dan sudah lebih mengerti mengenai dirinya. Ini bisa dianalogikan dengan anak sekolah yang naik kelas setelah menghadapi ujian. Ujian itu justru akan memperkuat dirinya

    Buku-3: “Collapse, How Societies Choose to Fail or Survive”

    Buku ini ditulis oleh Jared Diamond dan diterbitkan Penguin. Tidak seperti dua buku sebelumnya yang dibuat oleh pengarang buku bisnis atau motivasi, buku ini adalah hasil karya seorang sejarawan yang memiliki pengetahuan mendalam tentang berbagai sejarah peradaban. Diamond adalah juga pengarang buku “Guns Germs and Steel.” Yang juga perlu dicatat ini adalah salah satu buku favorit Bill Gates.

    Buku ini benar-benar menggambarkan, bukan saja riwayat jatuh bangunnya perusahaan, tapi juga kolapsnya berbagai peradaban, mulai dari peradaban kuno di Montana, Kepulauan Pitcairn dan Henderson, Anasazi, Maya, Viking, Norse Greenland, hingga peradaban modern di Rwanda, Dominika, Haiti, China, dan Australia.

    Setelah melalui riset yang mendalam, Diamond menyimpulkan ada beberapa penyebab merosot dan punahnya peradaban-peradaban besar itu.

    1.     Perusakan sumber daya alam
    Kerusakan alam adalah bahaya bagi sebuah peradaban yang telah sejak dulu diakui oleh para arkeolog, klimatolog, sejarawan, paleontolog, dan palynolog. Dalam hal ini seringkali musnahnya sebuah peradaban disebabkan karena mereka secara tak sengaja merusak sumber daya alam di mana mereka sangat tergantung sehari-hari. Hal ini disebut dengan istilah ecocide (ecolological suicide).

    Banyak peradaban punah akibat deforestasi lingkungan, kerusakan habitat, erosi, salinisasi, penurunan kesuburan tanah, masalah manajemen air, perburuan binatang secara berlebihan (overhunting), penangkapan ikan besar-besaran (overfishing), dan pertumbuhan populasi manusia yang tak terkendali.

    Pada peradaban modern, ini diperparah lagi antara lain dengan adanya bahan-bahan kimia beracun dan keterbatasan energi. Bahkan masyarakat yang paling kaya dan menguasai teknologi canggih sekalipun menghadapi permasalahan lingkungan dan ekonomi yang tak bisa disepelekan

    2) Perubahan iklim
    Sekarang ini kita cenderung mengasosiasikan perubahan iklim dengan pemanasan global yang disebabkan oleh ulah manusia sendiri. Pada kenyataannya, perubahan iklim juga berkait dengan gejala alam yang tak terelakkan. Misalnya saja peristiwa perubahan iklim yang terjadi antara tahun 1400-1800 M (Little Ice Age) yang kemudian diikuti dengan letusan dahsyat Gunung Tambora di Indonesia. Letusan tersebut memuntahkan debu vulkanik yang demikian pekat ke lapisan atmosfer sehingga menyebabkan minimnya cahaya matahari yang mampu menembus hingga ke lapisan tanah. Peristiwa ini bahkan sempat menyebabkan kelaparan bagi masyarakat di Amerika Utara dan Eropa karena perubahan temperatur .

    3) Tetangga yang bermusuhan
    Punahnya suatu peradaban bisa juga disebabkan oleh adanya tetangga yang bersikap bermusuhan. Ini sangat berbahaya, sebab tetangga yang bermusuhan selalu menciptakan potensi peperangan dan benturan. Kalau kita sukses, mereka justru tak suka. Salah satu contoh di masa lalu adalah kelompok barbar yang berperan dalam kejatuhan imperium Roma pada tahun 476 M

    4) Berkurangnya dukungan dari tetangga yang bersahabat
    Kadangkala, melemahnya salah satu tetangga yang bersahabat dan melakukan perdagangan dengan kita, berefek langsung terhadap melemahnya peradaban kita. Karena itu, dalam konteks hubungan antar negara, pasang surut hubungan diplomatik menjadi faktor yang menentukan.

    5) Bagaimana sebuah peradaban merespon permasalahan-permasalahan yang berkembang di masyarakatnya
    Setiap peradaban merespons suatu masalah dengan cara yang berbeda-beda. Hal itu diakibatkan karena respons setiap masyarakat memang sangat tergantung dari kondisi politik, ekonomi, dan institusi sosial, maupun nilai-nilai budaya mereka. Misalnya saja untuk permasalahan deforestasi yang muncul di banyak peradaban dan bila tidak diatasi dengan baik bisa berujung pada bencana.

    Masyarakat Highland New Guinea, Jepang, Tikopia , dan Tonga, bisa terus bertahan dari ancaman bencana ini karena mereka berhasil membuat manajemen hutan yang baik. Sementara itu, masyarakat Easter Island, Mangareva, dan Norse Greenland, gagal mengembangkan manajeman hutan yang baik sehingga akhirnya peradaban mereka kolaps. Hal ini sangatlah cocok dengan kondisi Indonesia.

    Oleh karenanya sangat penting bagi kita untuk menjaga sumber daya alam dan menyiapkan kekuatan militer yang mampu menjaga aset dari ancaman bangsa lain. Yang paling berbahaya adalah jika sebuah masyarakat hanya memiliki roadmap untuk berhasil tapi tidak untuk mengantisipasi kegagalan. Jangan sampai kita menjadi masyarakat yang telah mengetahui kesalahan kita tapi gagal untuk mengakui dan memahaminya (failure to perceive). Hal itu hanya akan berujung pada kegagalan untuk mengantisipasi kejatuhan peradaban kita sendiri.

4 Responses to “Belajar dari Kesalahan”

  1. Dika Restiyani says:

    Menarik sekali ulasannya Pak Anin. Namun yang paling menarik menurut saya mengenai tulisan ini >> “Kamus Webster mendefinisikan ‘maverick’ sebagai seorang pionir, individu independen yang tidak sama dengan kebanyakan tipe orang. Banyak pemimpin yang mengabaikan hal ini, dan tidak memberi ruang yang cukup bagi orang-orang istimewa seperti mereka. Padahal, boleh jadi mavericks ini yang bisa berguna bagi organisasi pada suatu saat.”
    well..I think I’m one of the mavericks..hehe :)

  2. Dika Restiyani says:

    Menarik sekali ulasannya Pak Anin. Namun yang paling menarik menurut saya mengenai tulisan ini >> “Kamus Webster mendefinisikan ‘maverick’ sebagai seorang pionir, individu independen yang tidak sama dengan kebanyakan tipe orang. Banyak pemimpin yang mengabaikan hal ini, dan tidak memberi ruang yang cukup bagi orang-orang istimewa seperti mereka. Padahal, boleh jadi mavericks ini yang bisa berguna bagi organisasi pada suatu saat.”
    well..I think I’m one of the mavericks..hehe :)
    is it bad to be a maverick sir?
    I assumed it as someone who always different from others…

  3. reza says:

    pheuwww… definisi “ringan” pak Anin ternyata masih terlalu “berat” utk saya. :)
    anyway, saya sering merasa “kayaknya gw keliru jadi ‘mavericks’ neeh…seperti dianggap tdk obey ato tdk loyal pd atasan…”

  4. Juniar says:

    Kalo di kantor saya, ada juga yang tingkahnya ’sok maverick’. Nyeleneh, gak taat aturan, pokoknya dia seringnya ngerusak ritme kerja tim dech.. Tapi dari sisi pencapaian target sih dia biasa-biasa saja. Yaa mungkin sekali-sekali pernah deh bikin prestasi. Tapi lebih banyak jengkelinnya.. Pertanyaannya sampe sejauh mana yang kayak gini bisa ditolerir sich??

Leave a Reply