SEARCH :
  • posted by Anindya Sep 16th, 2009

    Para pemenang lomba blog dan foto Ramadhan Majelis Ta'lim Esia

    Para pemenang lomba blog dan foto Ramadhan Majelis Ta'lim Esia

    Ada yang menarik saat saya menghadiri acara buka puasa dan salat tarawih bersama karyawan Bakrie Telecom, di Balai Kartini, Senin sore, 14 September 2009 yang lalu. Bukan hanya karena acara itu dihadiri oleh Ustadz Arifin Ilham, melainkan karena saya mendapati bentuk kreativitas baru dalam kegiatan dakwah Majelis Ta’lim Esia.

    Sejak kelahirannya pada 1995 (saat itu bernama Majelis Ta’lim Ratelindo), dan kemudian berganti nama menjadi Majelis Ta’lim Esia (MTE) pada 2003, baru kali ini Majelis Ta’lim memperkenalkan dua kegiatan baru, yakni lomba foto dan blog Ramadhan.

    Lomba foto akhirnya dimenangkan Gerry Lucmallendro yang mengabadikan seorang gadis muslimah yang sedang menyimak kitab suci Al-Qur’an (judul foto: Membaca Kompas Kehidupan), disusul di tempat kedua, yakni Yudi Febrianda yang memotret suasana salam-salaman lebaran dari sudut pandang-atas atau bird’s eye view (judul: Halal bihalal), dan terakhir, Zulfahmi Fithri yang memfoto suasana kontras antara hikmatnya tawaf di musim haji dengan menjulangnya berbagai crane dan kesibukan pembangunan di sekitar Masjidil Haram (judul: Under Construction).

    Sementara itu, pemenang lomba blog Ramadhan adalah Evie DP dengan artikel blog berjudul “Lebaran 28 hari lagi”, disusul juara kedua Irfan Yudi S dengan tulisan berjudul “Shalat Berjamaah ke Mesjid, Yuk!”, dan di tempat ketiga adalah Dhino Kartika dengan artikel berjudul “Tips PD Buka Puasa Tanpa Harus Mendengar Azan”.

    "Membaca Kompas Kehidupan" karya Gerry Lucmallendro

    "Membaca Kompas Kehidupan" karya Gerry Lucmallendro

    Tapi blog ini bukan sekadar ingin mengumumkan daftar pemenang. Saya ingin mengulas proses lomba yang sedikit berbeda ketimbang lomba foto dan blog lainnya. Kedua lomba yang diadakan oleh MTE ini, di mata saya, pada skala kecil telah menerapkan konsep “crowdsourcing.”

    Crowdsourcing adalah terminologi yang merupakan pelesetan dari istilah “outsourcing,” yang kini mulai populer di dunia bisnis. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang jurnalis bernama Jeff Howe, dalam artikelnya di situs Wired pada tahun 2006, dan kemudian melalui buku “Crowdsourcing” terbitan Crown Business (2008).

    Outsourcing maupun crowdsourcing bertujuan untuk menghemat biaya perusahaan. Namun ada perbedaan mendasar di antara keduanya. Outsourcing dilakukan saat sebuah perusahaan mempercayakan produk atau layanannya kepada perusahaan pihak ketiga. Sementara itu, crowdsourcing justru hanya mengedepankan pencarian ide tentang suatu produk dari masyarakat luas. Biasanya, masukan dan ide-ide terbaik dari masyarakat lalu dibayar dengan imbalan tertentu dari perusahaan yang bersangkutan.

    Ketimbang mencoba mengail ide sendiri, seringkali gagasan yang berasal dari khalayak luas, jauh lebih kreatif dan out of the box. Selain itu—ini yang terpenting–ia juga akan lebih relevan dengan kondisi masyarakat itu sendiri.Tak hanya untuk aktivitas-aktivitas perusahaan yang bersifat casual, crowdsourcing kini telah dimanfaatkan untuk menjalankan roda bisnis perusahaan-perusahaan besar seperti Procter & Gamble.

    "Halal bi Halal" karya Yudi Febrianda

    "Halal bi Halal" karya Yudi Febrianda

    Di bawah kepemimpinan CEO AG Lafley (kini sudah pensiun), P&G memperkenalkan sebuah program inisiatif bernama Connect and Develop untuk menjaring produk dan inovasi baru dari masyarakat luas, untuk mengakali proses inovasi internal perusahaan yang mulai stagnan.

    Targetnya saat itu, dari hanya 15 persen produk dan inovasi baru yang idenya berasal dari luar perusahaan, P&G hendak meningkatkannya menjadi 50 persen. Pada akhir 2008, P&G telah melampaui target awal.

    Dua perusahaan yang lebih kecil, iStockphoto dan Threadless, juga menerapkan metode ini. Seorang desainer web bernama Bruce Livingstone membuat sebuah situs untuk menampung karya-karya para fotografer amatir dengan harga yang jauh lebih murah, US$ 25 sen, dibanding foto milik kantor berita yang harganya bisa mencapai ratusan dolar. Dalam waktu singkat, iStockphoto memotong penggunaan foto dari kantor berita hingga 99 persen. Akhirnya, perusahaan milik Livingstone ini dibeli Getty Images seharga US$ 50 juta.

    "Under construction" karya Zulfahmi Fithri

    "Under construction" karya Zulfahmi Fithri

    Adapun Threadless adalah perusahaan pembuat kaus yang dimulai oleh dua anak drop-out dari sebuah kamar kecil di Chicago, Jake Nickell dan Jacob DeHart. Mereka merancang situs threadless.com di mana orang bisa mendaftarkan desain kaus T-shirt mereka, memberi atau mendapatkan rating, dan memilih atau dipilih sebagai desain terbaik. Desainer pemenang akan mendapatkan kaus secara gratis.

    Lambat laun komunitas Threadless terus berkembang. Kini tercatat ada lebih dari 600 ribu orang bergabung di komunitas maya ini. Setiap pekan sekitar 1000 desain kaus masuk ke Threadless. Hadiahnya sekarang, bukan lagi kaus gratis, tapi bayaran uang senilai US$ 2 ribu (sekitar Rp 20 juta).

    Jadi, Threadless secara mengagumkan mampu menghemat berbagai komponen biaya yang biasanya harus dikeluarkan perusahaan–biaya riset dan pengembangan, marketing, distribusi, sekaligus pembagian dividen atau bagi hasil bagi pemenangnya. Padahal, biasanya sebuah perusahaan begitu susah payah untuk mencapai ini semua.

    Mengutip kata-kata Jeff Howe dalam bukunya, crowdsourcing merupakan praktek meritokrasi yang sempurna, di mana gender, ras, pendidikan, dan sejarah pekerjaan tak dipersoalkan. Yang dinilai, semata-mata hanyalah kualitas akhir dari sebuah kerja.

    Dalam pikiran saya, model bisnis seperti ini bukan tidak mungkin untuk bisa diterapkan di Bakrie Telecom. Apalagi kini pelanggan kami sudah mencapai 9 juta orang, dan terus bertambah. Seharusnya dengan komunitas sebesar ini kami juga bisa menerapkan berbagai aspek bisnis yang sangat demokratis seperti crowdsourcing ini. Anda punya ide? Saya berterima kasih sekali jika Anda bersedia membaginya.

6 Responses to “Benih-benih Crowdsourcing di Majelis Ta’lim Esia”

  1. Zidni says:

    Sekedar info pak,
    threadless versi indonesia di gantibaju.com
    dan istockphoto ada di sharingfoto.com, sayangnya sharing foto sudah berhenti karena market untuk pembelian foto masih kurang berkembang.

    Beberapa hari yang lalu, ketika MTE dan bikers membuat Sahur On The Road beberapa anak panti asuhan bertanya kalau mau buat RBT prosesnya bagaimana? rupanya mereka ingin membuat RBT sendiri. mungkin RBT sendiri ini bisa jadi crowdsourcing di BTel :)

  2. Hilal Achmad says:

    Setuju pak, media penampungan ide dan kreativitas akan sangat membantu kita dalam melihat demand, need dan trend yang ada. Semakin banyak kepala, semakin innovative dan kreative.

    contohnya starbucks yang hadir dengan konsep bursa ide myStarbucks (http://mystarbucksidea.force.com/) atau Dell yang hadir dengan Dell Storm Idea (http://www.ideastorm.com/). Keduanya memiliki mekanisme yang sama dalam menjaring ide, yaitu :

    1. Posting Idea
    2. Vote Idea
    3. View Posted Idea
    4. See Implemented Idea

    Kita bisa juga membuat sebuah Innovation Factory. Di mana semua orang bisa berkreasi dengan service service/produk yang kita miliki dan membuat kombinasi seunik mungkin. Siapa tahu, dari ide gila justru timbul layanan yang punya nilai tambah.

  3. Raymond Hendrick Julio says:

    Crowdsourcing mengumpulkan ide-ide dari masyarakat yang oleh masyarakat banyak sendiri, dipilih, diakui seperti misalnya acara talent seperti Indonesian Idol yang mengumpulkan talent, bakat dari seluruh Indonesia lalu masyarakat sendiri yang memilih sehingga dipakai sendiri.

    Bagaimana kalau penawaran B-Tel tidak hanya melalui iklan, tapi langsung menyentuh ke masyarakat, seperti penawaran langsung (pendekatan langsung) ke masyarakat agar masyarakat yang belum memakai, mencoba memakai produk esia.

    Minggu kemarin saya ikut seminar kewirausahaan yang dibawakan mantan distibutor besar Telkom Flexi Jawa Barat. Dia jadi mantan karena tidak mau membuang devisa negara ke luar negeri karena bisnis telekomunikasi. Sekarang dia jadi konsultan bisnis telekomunikasi dengan tarif US$ 3000 per jam atau setara Rp 30 juta per jam nya.
    Waktu itu ada lelucon, memakai telepon e maneh (bahasa sunda yang berarti dalam bahasa indonesia berarti eh kamu atau hai kamu) –> kalau bahasa sunda kasarnya adalah e sia.

    Saya jadi ada ide, bagaimana kalau dengan cara menyebarkan infulence seperti facebook sehingga setiap orang pasti pakai hp cdma esia karena banyak orang atau teman2nya juga pakai (supaya ikut2an pakai juga) sehingga kalau berbeda operator akan tidak efisien. Sedikit pendapat saya, semoga bermanfaat. Terimakasih.

    Regards,
    Raymond

  4. Raymond Hendrick Julio says:

    Crowdsourcing mengumpulkan ide-ide dari masyarakat yang oleh masyarakat banyak sendiri, dipilih, diakui seperti misalnya acara talent seperti Indonesian Idol yang mengumpulkan talent, bakat dari seluruh Indonesia lalu masyarakat sendiri yang memilih sehingga dipakai sendiri.

    Bagaimana kalau penawaran B-Tel tidak hanya melalui iklan, tapi langsung menyentuh ke masyarakat, seperti penawaran langsung (pendekatan langsung) ke masyarakat agar masyarakat yang belum memakai, mencoba memakai produk esia.

    Minggu kemarin saya ikut seminar kewirausahaan yang dibawakan mantan distibutor besar Telkom Flexi Jawa Barat. Dia jadi mantan karena tidak mau membuang devisa negara ke luar negeri karena bisnis telekomunikasi. Sekarang dia jadi konsultan bisnis telekomunikasi dengan tarif US$ 3000 per jam atau setara Rp 30 juta per jam nya.
    Waktu itu ada lelucon, memakai telepon e maneh (bahasa sunda yang berarti dalam bahasa indonesia berarti eh kamu atau hai kamu) –> kalau bahasa sunda kasarnya adalah e sia.

    Saya jadi ada ide, bagaimana kalau dengan cara menyebarkan infulence seperti facebook sehingga setiap orang pasti pakai hp cdma esia karena banyak orang atau teman2nya juga pakai (supaya ikut2an pakai juga)
    –> sepeti iklan sabun cuci piring yang mengajak teman2nya, apabila mengajak teman2nya pakai esia nanti dikasi hadiah, apalagi kalau berbeda operator akan tidak efisien. Sedikit pendapat saya, semoga bermanfaat. Terimakasih.

    Regards,
    Raymond

  5. away baidhowy says:

    assalamu’alaikum bapak…
    salam kenal dari saya : AWAY BAIDHOWY, seorang guru di serpong.
    Saya punya foto menarik ketika malam2 ramadhan ini : anak2 saya sedang bermain kembang api…senang sekali,,, dengan teknik foto semampu saya, dapat sebuah jepretan yang menurut saya : KOK BISA MENJADI LINGKARAN ANGKA : 009… saya ingat-ingat : suatu hari pernah melihat seragam hijau ESIA di kawasan Kuningan… Saya ingin sharing ke Bapak…mudah2an bisa menjadi bagian promosi ESIA 009…

    Salam Takzim,
    Away Baidhowy
    0812 1300 5678

  6. Assalamualaikum,

    Semoga Pak anindya selalu dalam lindungan dan keberkahan Allah swt.
    Salam kenal,
    klo boleh tau, majelis ta’lim bakrie boleh diikuti oleh umum atau tidak pak? kalau boleh kapan jadwalnya ya?

    terima kasih sebelumnya pak.
    wassalam

Leave a Reply